Baiklah, inilah kisah pendek yang kamu minta: **Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus** Hujan gerimis Seoul malam itu seolah menari di atas payung transparan yang kami bagi. Dulu, di bawah payung yang sama, bibir kami bertaut dalam ciuman pertama yang terasa seperti bintang jatuh. Sekarang, jarak yang tercipta terasa lebih luas dari Sungai Han yang membelah kota. “Ling…,” suaranya serak, diterpa angin dingin. “Maafkan aku.” Aku, Ling Wei, hanya menatap genangan air di aspal. Pantulan wajahku di sana buram, sama seperti hatiku. Dulu, dia, Li Jun, berjanji akan menggenggam tanganku selamanya. Janji itu, bagiku, lebih berharga dari berlian. Sekarang? Debu pun lebih bernilai. “Maaf untuk apa, Li Jun?” Aku bertanya, suaraku datar. “Maaf karena meninggalkanku demi ambisi? Maaf karena menikahi putri konglomerat demi mendaki tangga kekuasaan?” Dia terdiam. Angin berhembus semakin kencang, menerbangkan beberapa helai rambut ke wajahnya. Dulu, aku suka menyelipkan helai-helai itu di balik telinganya. Sekarang, sentuhan itu terasa menjijikkan. “Aku… aku tidak punya pilihan,” bisiknya. “Keluargaku… bisnisnya…” *PILIHAN!* Kata itu bergaung di kepalaku. Dia selalu punya pilihan. Dia hanya memilih yang bukan aku. “Pilihan. Ya, kau benar. Kau memilih untuk membunuh Ling Wei yang mencintaimu. Kau memilih untuk menghancurkan semua impian kita.” Aku tertawa sinis. Tawa yang terasa pahit dan hancur. Li Jun mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh pipiku. Aku menghindar. “Jangan sentuh aku,” desisku. “Kau bukan lagi Li Jun yang kukenal.” Air mataku akhirnya tumpah. Bukan karena cinta, tapi karena kemarahan. Karena penyesalan. Karena aku *terlalu* bodoh untuk percaya padanya. “Aku… aku akan menebusnya, Ling. Aku akan melakukan apapun.” “Terlambat.” Aku mengangkat daguku, menatap matanya. “Terlambat untuk segala hal.” Aku berbalik, melangkah menjauh. Hujan semakin deras, menyamarkan air mataku. Di belakangku, aku mendengar Li Jun memanggil namaku. Aku tidak menoleh. *Aku akan membuatmu menyesal, Li Jun.* Aku bersumpah dalam hati. *Aku akan menjadi virus cinta yang tak bisa dihapus antivirus dalam hidupmu.* Bukan dengan cara murahan. Bukan dengan balas dendam terang-terangan. Tapi dengan cara yang lebih elegan. Lebih menyakitkan. Lebih… takdir. Lima tahun kemudian, Li Jun kehilangan segalanya. Perusahaannya bangkrut, pernikahannya hancur, reputasinya tercoreng. Dan aku? Aku menjadi pengacara yang memimpin gugatan hukum yang menghancurkannya. Aku tidak merencanakan ini. *Sungguh.* Sepertinya, takdir punya selera humor yang unik. Ketika dia menatapku di ruang sidang, matanya penuh penyesalan dan putus asa, aku hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak akan pernah dia lupakan. Senyum yang akan menghantuinya selamanya. Cinta dan dendam menari dalam irama yang abadi, dan aku, adalah pemain biola yang memainkan melodi pahit untuk mereka.
You Might Also Like: 30 Free Beautiful Email Newsletter
