Wajib Baca! Kau Menatapku Dari Sisi Kegelapan, Dan Aku Melangkah Ke Sana Tanpamu



**Kau Menatapku dari Sisi Kegelapan, dan Aku Melangkah ke Sana Tanpamu** Hujan abu memenuhi langit Kota Terlarang. Bukan abu dari dupa yang dibakar untuk para leluhur, melainkan abu dari mimpi-mimpi yang hancur berkeping-keping. Di tengah badai itu, aku berdiri, jubah naga keemasanku terasa berat, bukan karena benang emasnya, tapi karena beban janji yang **KAU** ingkari. Kau, Jing Wei, dulu adalah mentariku. Cahayamu menghangatkan hatiku yang sedingin es. Kita berjanji di bawah pohon persik yang sedang bermekaran, janji tentang cinta abadi, tentang kerajaan yang akan kita bangun bersama. Kau berjanji akan selalu berada di sisiku, tak peduli badai menghadang. Namun, kau memilih mahkota yang lebih berkilau. Kau memilih tahta Permaisuri. Dan aku, terdampar dalam samudra kesepian, ditinggalkan untuk menahkodai kapal yang oleng tanpa nahkoda. Aku mengingat malam itu. Malam *paling* **CELAKA** dalam hidupku. Kau berdiri di balkon, siluet tubuhmu diterangi rembulan. Matamu berkaca-kaca, tetapi kau tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tatapan penuh penyesalan, tatapan yang menusuk jantungku lebih tajam dari ribuan pedang. Kau menatapku dari sisi kegelapan, dari sisi yang tak mungkin lagi kuraih. "Maafkan aku," bisikmu, nyaris tak terdengar. Tapi aku tahu, kata-kata itu adalah palu terakhir yang memakukan peti mati cinta kita. Bertahun-tahun berlalu. Aku naik tahta, membuktikan pada dunia bahwa aku mampu. Aku membangun kerajaan yang lebih megah dari yang pernah kita impikan. Tapi setiap sudut istana terasa hampa. Setiap malam, aku melihat bayanganmu di balik tirai sutra. Hari ini, aku memerintahkan eksekusi Wei Liang, saudaramu. Bukan karena dia berkhianat padaku, meskipun dia *melakukannya*. Bukan karena dia berkomplot untuk membunuhku, meskipun dia **BERUSAHA**. Aku melakukannya karena dia adalah darah dagingmu, satu-satunya jejakmu yang tersisa di dunia ini. Aku ingin kau merasakan sedikit saja dari sakit yang kurasakan. Aku ingin kau tahu, bahwa *keadilan* itu ada. Aku tahu, dari sisi kegelapan sana, kau pasti menyaksikan semuanya. Kau melihat bagaimana takdir menuntut balas. Kau melihat bagaimana istanaku sekarang, adalah kuburan cintamu. Dan kini, aku bertanya-tanya, apakah aku mencintaimu cukup untuk memaafkanmu, atau membencimu cukup untuk menghancurkan segalanya yang kau tinggalkan?
You Might Also Like: Cara Skincare Lokal Untuk Kulit

Post a Comment

Previous Post Next Post