Tangisan yang Tak Lagi Manusiawi
Kabut menggantung di atas Sungai Abadi, selubung perak yang memisahkan dunia manusia dan dunia roh. Di permukaannya, lentera-lentera api menari, pantulan obor yang membakar kenangan. Bulan, saksi bisu segala zaman, membisikkan namanya – Lin Yue – nama yang terlupakan di dunia manusia, namun terukir di langit malam dunia roh.
Lin Yue terbangun di tengah hutan bambu yang berbisik. Tidak ada ingatan tentang hidupnya, hanya perasaan sakit yang menusuk, sebuah kehilangan yang tak terdefinisi. Bayangan di sekitarnya menari-nari, bukan sekadar siluet pepohonan, melainkan entitas yang bernapas, membisikkan rahasia yang belum bisa ia pahami.
"Kematianmu adalah kelahiran," desis sebuah bayangan yang tampak seperti serigala perak. "Dunia manusia menolakmu, namun dunia roh memanggilmu."
Lin Yue mempelajari takdir barunya. Ia adalah Penjaga Gerbang, penghubung antara dua dunia. Kekuatan magis mengalir dalam nadinya, kemampuan untuk memanipulasi waktu dan ruang. Namun, kekuatan itu datang dengan harga yang mahal: tangisan yang bukan lagi manusiawi, ratapan hantu yang mengoyak sunyi.
Di dunia manusia, Kaisar Xuan, seorang pria yang menyimpan luka mendalam, bermimpi tentang seorang wanita dengan mata seindah rembulan. Ia merasakan kehilangan yang sama dengan Lin Yue, seolah sebagian jiwanya hilang bersamanya. Kaisar Xuan bertekad menemukan wanita dalam mimpinya, tanpa menyadari bahwa ia mencari bayangan masa lalu yang terkubur dalam kabut Sungai Abadi.
Dalam perjalanannya, Lin Yue bertemu dengan Bai Lian, roh rubah yang cantik dan penuh teka-teki. Bai Lian membimbingnya, mengajarinya mengendalikan kekuatannya, dan membantunya mengungkap masa lalunya. Namun, Lin Yue merasakan sesuatu yang tidak beres tentang Bai Lian. Senyumnya terlalu manis, matanya terlalu dalam, seolah ia menyembunyikan sesuatu.
Suatu malam, di bawah cahaya bulan yang penuh, Lin Yue menemukan sebuah kuil tersembunyi di jantung hutan bambu. Di dalamnya, terdapat lukisan dirinya, bukan sebagai Penjaga Gerbang, melainkan sebagai seorang putri, tunangan Kaisar Xuan.
Kebenaran menyakitkan terungkap. Kematian Lin Yue bukanlah kecelakaan. Ia dibunuh, dikorbankan oleh seseorang yang menginginkan takhta kekaisaran. Dan Bai Lian... adalah dalang di balik semua itu.
"Aku membutuhkanmu, Lin Yue," bisik Bai Lian dengan suara yang tiba-tiba terdengar dingin. "Kekuatanmu akan membantuku membuka Gerbang Abadi dan menguasai kedua dunia."
Lin Yue hancur. Cinta yang ia kira tulus ternyata hanya manipulasi. Kaisar Xuan, pria yang selalu hadir dalam mimpinya, adalah pria yang kehilangan dirinya karena pengkhianatan.
Pertarungan epik terjadi di kuil kuno. Lin Yue, dengan kekuatannya yang baru ditemukan dan amarah yang membara, melawan Bai Lian. Lantai kuil bergetar, bayangan-bayangan menjerit, dan lentera-lentera api di Sungai Abadi berkedip seolah ikut merasakan sakitnya.
Akhirnya, Lin Yue berhasil mengalahkan Bai Lian. Roh rubah itu lenyap menjadi debu, meninggalkan Lin Yue dengan hati yang patah dan kebenaran yang pahit.
Kaisar Xuan, yang merasakan gejolak magis, tiba di kuil tepat setelah pertarungan berakhir. Ia melihat Lin Yue, wanita dalam mimpinya, berdiri di bawah cahaya bulan. Mereka saling menatap, mengenali kehilangan dan kerinduan yang sama.
"Lin Yue?" bisik Kaisar Xuan, suaranya bergetar.
Lin Yue menatapnya, air mata mengalir di pipinya. Bukan tangisan hantu, melainkan air mata penyesalan, kesedihan, dan harapan. Ia tahu, meskipun masa lalunya penuh dengan pengkhianatan, masa depannya masih mungkin ditulis ulang.
Siapakah yang mencintai dengan tulus, dan siapakah yang menari mengikuti irama takdir yang dipalsukan? Jawaban tersembunyi di balik tatapan mereka, di antara kabut Sungai Abadi, di bawah bulan yang mengingat nama.
Dan kini, takdir akan ditulis ulang dengan darah dan air mata!
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Kosmetik