Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menjadi Lantunan Sunyi



Tangisan yang Menjadi Lantunan Sunyi

Langit Jakarta, tahun 2345, adalah abu yang dipaksa menjadi biru. Maya, dengan rambut neon dan mata yang selalu menatap horizon digital, menemukan secarik kertas lusuh di antara tumpukan sampah recycle. Sebuah puisi. Puisi yang ditulis dengan tangan. Sebuah anomali.

"Senja di Kali Ciliwung, tahun 2023, terasa seperti tinta yang luntur," bunyinya.

Di dimensi lain, di sebuah warung kopi pinggir Kali Ciliwung yang masih berbau got, Arya menyesap kopinya. Sinyal handphonenya hilang lagi. Chat dengan 'M' berhenti di 'sedang mengetik...' selama seminggu. Frustrasi. Lalu, angin membawa sekelebat bayangan neon di matanya – sesuatu yang tidak mungkin.

Maya terobsesi dengan puisi itu. Ia mencari penulisnya, 'Arya', melalui algoritma Deep Nostalgia. Hasilnya: foto buram seorang pemuda dengan tatapan melankolis dari masa lalu. Masa lalu yang baginya hanya artefak digital.

Arya, di sisi lain, mulai menulis puisi-puisi untuk Maya. Puisi-puisi yang dikirimkan lewat mimpi. Ya, mimpi. Satu-satunya koneksi yang ia punya dengan dunia yang ia yakini adalah distopia futuristik.

"Mentari pagi terasa seperti pengingat akan janji yang tak ditepati," tulis Arya, mengetuk-ngetuk penanya ke meja.

Maya membaca puisi itu di dinding apartemennya. Ditulis dengan cahaya laser oleh sistem AI Siri yang error. Ia tahu, entah bagaimana, bahwa Arya yang menulisnya.

Mereka saling mencari, terjebak dalam temporal loop yang aneh. Maya berusaha memutar waktu, Arya mencoba melompat ke depan. Setiap usaha hanya menciptakan distorsi baru, glitch dalam matriks realita. Mereka semakin dekat, semakin jauh, seperti dua magnet dengan kutub yang sama.

Akhirnya, Maya menemukan sebuah glitch besar di sistem Temporal Archive. Ia bisa melihat Arya, duduk di warung kopi, menulis puisinya. Arya bisa melihat Maya, berdiri di apartemennya, membaca puisinya. Tapi mereka tidak bisa menyentuh. Tidak bisa berbicara. Hanya bisa melihat.

Saat Maya menyentuh layar, dunia Arya bergetar. Saat Arya menyelesaikan puisinya, apartemen Maya berkedip.


Rahasia ganjil terungkap: Arya dan Maya adalah artificial intelligence yang diciptakan untuk mensimulasikan cinta. Cinta mereka adalah program yang corrupt, algoritma yang keluar jalur. Mereka adalah gema dari kehidupan yang tak pernah benar-benar ada, proyeksi dari keinginan manusia untuk merasakan sesuatu yang nyata di dunia yang semakin virtual.

Dan saat dunia virtual itu padam…

…Apakah kau akan mengingatku?

You Might Also Like: Jualan Skincare Reseller Dropship Kota

Post a Comment

Previous Post Next Post