Endingnya Gini! Kau Berkata Aku Segalanya, Tapi Membuktikan Aku Bukan Apa-apa



Kau Berkata Aku Segalanya, Tapi Membuktikan Aku Bukan Apa-Apa

Angin berdesir di antara lentera merah yang menggantung di paviliun bambu. Aroma teh melati memenuhi udara, tetapi tak mampu menutupi kepahitan yang merayap di hati Hua Ling. Di seberangnya, duduk Wei Long, sahabat seperguruan, saudara angkat, SEGALANYA, dulu. Senyumnya masih sama, menawan dan menenangkan, tapi Hua Ling tahu, itu hanyalah topeng.

"Ling'er," Wei Long memulai, suaranya selembut sutra yang membelai kulit. "Kau tahu, aku selalu menganggapmu lebih dari sekadar saudara."

Hua Ling menahan senyum sinis. "Benarkah? Kata-kata manis, Wei Long. Dulu kau juga berkata begitu ketika menikahi Mei Lan, cinta pertamaku."

Wei Long terdiam sejenak. Kilat terpancar di matanya, namun segera disembunyikan. "Itu... demi aliansi. Demi kebaikan sekte."

"Kebaikan sekte?" Hua Ling tertawa hambar. "Atau KAU yang ingin menjadi pewaris utama? Aliansi itu hanya alasan, bukan?"

Misteri itu perlahan terkuak. Hua Ling dan Wei Long tumbuh bersama di Kuil Bulan Purnama, diasuh oleh biksu kepala yang bijaksana. Mereka berlatih bersama, berbagi mimpi dan rahasia. Hua Ling selalu lebih unggul dalam seni bela diri, namun Wei Long memiliki karisma yang mampu menaklukkan hati. Ketika biksu kepala mengumumkan akan memilih penerus, Wei Long menikahi Mei Lan, putri dari sekte terkuat. Aliansi itu memberinya keuntungan, dan Hua Ling, dengan pahit, harus merelakan posisinya.

Namun, ada rahasia yang lebih kelam dari sekadar ambisi. Hua Ling tahu, Wei Long bertanggung jawab atas kematian orang tuanya. Kecelakaan yang dulu dianggap tragis, ternyata adalah rencana pembunuhan yang rapi. Orang tua Hua Ling mengetahui rahasia kelam Wei Long, rahasia tentang darah iblis yang mengalir di nadinya. Mereka mencoba mengungkapnya, dan Wei Long membungkam mereka selamanya.

"Kau pikir aku tidak tahu?" desis Hua Ling. "Aku tahu kau yang membunuh mereka. Demi menyembunyikan KEBUSUKANMU!"

Wei Long berdiri, wajahnya berubah menjadi topeng mengerikan. "Kau tahu terlalu banyak, Ling'er. Dulu aku menyayangimu, tapi kau MEMAKSAKU melakukan ini."

Pertarungan pun dimulai. Pedang mereka berdenting, menyuarakan kebencian dan pengkhianatan yang terpendam. Hua Ling, dengan seluruh kemarahannya, mengeluarkan jurus mematikan. Wei Long, meskipun memiliki darah iblis, mulai kewalahan.

"Aku memberikanmu segalanya, Wei Long! Kesempatan, kepercayaan, bahkan cintaku! Tapi kau... kau MEMBUATKU seperti ini!" teriak Hua Ling di tengah pertarungan.

Pada akhirnya, pedang Hua Ling menembus jantung Wei Long. Dia tersungkur, darah mewarnai jubahnya yang putih.

"Kau... selalu... lebih kuat..." Wei Long terbatuk. "Tapi... kau tidak tahu... RAHASIA SEBENARNYA..."

"Rahasia apa?" tanya Hua Ling, suaranya bergetar.

Wei Long tersenyum getir, napasnya tersengal. "Ayahmu... dia juga... memiliki... darah iblis..."

Hua Ling terdiam. Kebenaran itu menghantamnya seperti badai. Ayahnya, pahlawan yang selalu dia puja, ternyata memiliki rahasia yang sama dengan iblis yang telah membunuh keluarganya. Balas dendamnya terasa hambar, bahkan menjijikkan.

Wei Long menghembuskan napas terakhirnya. Hua Ling berdiri di sana, di tengah paviliun yang remuk, dikelilingi oleh mayat sahabatnya, dengan kebenaran yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.

Aku membunuh iblis, tapi apakah aku berbeda darinya sekarang?

You Might Also Like: Hopkinton Town Center Aerial View Ma

Post a Comment

Previous Post Next Post