Langit yang Menyaksikan Awal Baru
Desiran angin malam menyapu dedaunan maple di Paviliun Jingxin. Alunan guqin meluncur lirih, seperti air mata yang jatuh perlahan. Di balik tirai bambu, Li Wei memetik senar dengan jemari gemetar. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, tertuju pada danau yang berkilauan diterpa cahaya bulan.
Lima tahun. Lima tahun ia menanggung semua ini. Pengkhianatan. Fitnah. Kehilangan. Semua itu dideritanya dalam diam. Bukan karena ia lemah, TIDAK. Ia punya alasan kuat. Rahasia yang membara di dalam hatinya, sebuah rahasia yang lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Dulu, ia adalah pewaris tunggal Keluarga Li yang disegani. Kekasihnya, Mei Lin, adalah bunga desa yang memikat hati. Tapi semua itu sirna dalam semalam. Mei Lin berselingkuh dengan sepupunya, Li Cheng, dan mereka berdua menjebaknya dalam skandal penggelapan dana. Semua orang percaya pada mereka. Semua orang, kecuali Langit.
Ia menyaksikan semua itu. Kesedihan mendalam melukis wajahnya, namun bibirnya terkunci rapat. Ia memilih untuk menyerahkan semuanya. Jabatan. Kekayaan. Bahkan namanya. Ia menghilang, meninggalkan kota untuk mencari kedamaian di paviliun terpencil ini.
Setiap malam, ia memainkan guqin. Setiap nada adalah curahan hatinya yang terluka. Setiap melodi adalah sumpah tanpa kata. Balas dendam? Tidak. Ia tidak ingin mengotori tangannya. Ia hanya ingin kebenaran terungkap.
Misteri mulai menyelimuti kehidupannya. Kiriman bunga peony putih selalu datang setiap pagi, tanpa nama pengirim. Sebuah kotak musik antik muncul di depan pintu paviliun, memainkan melodi yang hanya ia dengar saat kecil. Siapa yang mengirimkan semua ini? Siapa yang tahu keberadaannya?
Suatu malam, saat ia tengah memetik guqin, seseorang mengetuk pintu. Seorang wanita tua, dengan wajah keriput dan mata yang menyimpan kebijaksanaan abadi.
"Tuan Li," sapanya dengan suara serak. "Saya tahu segalanya."
Wanita itu ternyata adalah pelayan setia ibunya. Ia menyimpan bukti yang membuktikan bahwa Li Wei tidak bersalah. Mei Lin dan Li Cheng telah merencanakan semuanya dari awal, demi merebut kekayaan Keluarga Li.
Mengapa baru sekarang?
Wanita itu menjawab, "Saya menunggu waktu yang tepat. Waktu ketika kejahatan mereka mencapai puncaknya."
Dan memang benar. Mei Lin dan Li Cheng telah menghancurkan Keluarga Li. Bisnis mereka bangkrut, reputasi mereka tercemar. Mereka hidup dalam kemewahan palsu, di atas puing-puing kehancuran.
Li Wei tidak melakukan apa pun. Ia hanya tersenyum tipis. Takdir memiliki caranya sendiri untuk membalas dendam. Ia tahu, Karma adalah SENJATA paling ampuh.
Beberapa minggu kemudian, berita mengejutkan menggemparkan kota. Mei Lin dan Li Cheng ditangkap atas tuduhan korupsi dan penggelapan dana. Mereka berdua divonis hukuman berat. Keluarga Li kembali berjaya, di bawah kepemimpinan orang lain.
Li Wei tetap tinggal di paviliunnya. Ia terus memainkan guqin, melantunkan lagu tentang penyesalan, pengkhianatan, dan... PEMAAFAN. Ia telah menemukan kedamaian. Ia telah melepaskan semua dendamnya.
Malam itu, saat bulan bersinar paling terang, ia menerima sebuah surat. Tanpa nama pengirim. Hanya ada satu kalimat: "Permainan telah berakhir." Di dalam amplop, ia menemukan sebuah rambut putih yang sangat familiar... Rambut milik mendiang ibunya.
Senyum pahit menghiasi bibirnya. Rahasia yang ia simpan rapat akhirnya terpecahkan. Ibunya tahu semua tentang pengkhianatan itu, bahkan sebelum ia sendiri menyadarinya. Ibunya melindunginya, dengan cara yang hanya seorang ibu mampu lakukan. Ibunya... MEMBAYAR semuanya.
Langit menyaksikan awal baru. Langit menyaksikan keadilan yang tertunda. Langit menyaksikan... Li Wei menutup matanya, dan menghela napas panjang, TERLALU panjang, seolah ada beban berat yang baru saja diangkat dari pundaknya...
You Might Also Like: Cerpen Seru Tangisan Yang Menjadi Rindu