**Tangisan yang Mengguncang Takdir** Malam menggantung berat di atas Pegunungan Naga, seolah enggan memberikan tempat pada fajar. Salju turun tanpa henti, menutupi segala dosa dan kenangan dengan selimut putih yang dingin. Di tengah badai yang mengamuk, berdiri Paviliun Bulan Pucat, tempat di mana takdir dua jiwa terjalin dalam simpul cinta dan *DENDAM* yang tak terurai. Mei Ling, dengan gaun sutra merahnya yang compang-camping, berlutut di depan altar leluhur. Asap dupa mengepul, membawa serta doa-doa yang hancur dan harapan yang pupus. Di matanya, terpantul nyala lilin yang menari-nari, serupa dengan gejolak hatinya yang dilanda badai. Air mata mengalir membasahi pipinya, setiap tetesnya adalah ratapan atas cinta yang dikhianati, masa depan yang dirampas. Di hadapannya, berdiri Zhang Wei, dengan jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin. Wajahnya dingin dan keras, topeng yang menyembunyikan badai emosi di dalamnya. Di tangannya tergenggam pedang pusaka keluarga, bilahnya berkilauan memantulkan cahaya bulan yang menerobos awan. Pedang yang sama yang telah menumpahkan darah keluarganya, darah yang kini menuntut balas. "Mei Ling," bisik Zhang Wei, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam deru angin. "Semua ini... semua ini karena *RAHASIA* itu. Rahasia yang telah meracuni keluarga kita selama bertahun-tahun." Mei Ling mengangkat kepalanya, menatap Zhang Wei dengan mata yang penuh luka. "Rahasia apa? Rahasia yang telah merenggut kebahagiaanku? Rahasia yang membuatmu membenci... *MENCINTAIKU*?" Lidah api menjilat kayu altar, menerangi wajah Zhang Wei yang dilanda siksaan batin. Di benaknya, terbayang kilasan masa lalu: kebun bunga persik yang dipenuhi tawa, janji suci yang diucapkan di bawah langit senja, dan pengkhianatan yang mencabik hati. "Kakekmu," kata Zhang Wei dengan suara bergetar, "telah membunuh keluargaku. Dia merebut kekuasaan dengan darah dan tipu daya. *DAN AKU*... aku bersumpah akan membalas dendam." Mei Ling terisak, air matanya jatuh di atas lantai batu yang dingin. "Tapi... tapi aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apa-apa tentang semua ini." Zhang Wei melangkah mendekat, pedangnya terangkat. "Kau adalah keturunannya. Kau membawa darahnya. *KAULAH* simbol dari semua yang aku benci." Namun, di balik tatapan dinginnya, terpancar secercah kerinduan. Ia masih mencintai Mei Ling, wanita yang telah mencuri hatinya. Cinta dan kebencian bergejolak di dalam dirinya, menciptakan perang batin yang tak berkesudahan. "Janji di atas abu," bisik Mei Ling, mengingat kembali sumpah setia yang mereka ucapkan di masa lalu. "Sumpah yang kini kau langgar." Zhang Wei terdiam. Pedangnya bergetar di tangannya. Ia tahu, membunuh Mei Ling tidak akan membawa kedamaian baginya. Tetapi, membiarkannya hidup berarti mengkhianati sumpah leluhurnya. *DARAH* menetes di salju, merah membara di atas putihnya kebekuan. Bukan darah Mei Ling, melainkan darah Zhang Wei sendiri. Ia telah menikam dirinya sendiri, menebus dosa keluarganya dengan nyawanya sendiri. Zhang Wei jatuh ke lantai, matanya menatap langit-langit paviliun. "Balas dendam... telah kulakukan," bisiknya lemah, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. Mei Ling menatap mayat Zhang Wei dengan tatapan kosong. Air matanya telah kering, digantikan oleh kehampaan yang tak terhingga. Hatinya hancur berkeping-keping, menjadi abu seperti janji-janji mereka di masa lalu. Malam itu, Paviliun Bulan Pucat menyaksikan sebuah balas dendam yang tenang namun mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu, balasan yang akan menghantui Mei Ling hingga akhir hayatnya. Dan saat fajar menyingsing, mewarnai langit dengan semburat jingga, terdengar bisikan pelan di antara deru angin: *DIA AKAN KEMBALI.*
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Jualan