Sunyi. Ruangan besar berlapis emas itu terasa menyesakkan, padahal jendela-jendela tinggi menjulang, menawarkan pemandangan kota yang gemerlap. Bagi Mei Lan, gemerlap itu hanyalah riak-riak kecil di lautan gelap yang pernah menelannya. Dulu, ia adalah Mutiara, kebanggaan keluarga Lin, tunangan dari Pangeran Mahkota, dan pewaris kekaisaran bisnis raksasa. Sekarang, ia hanyalah hantu dari dirinya sendiri.
Ia masih ingat senyum manis Han, Pangeran Mahkota yang berjanji akan mencintainya selamanya. Ia juga ingat bagaimana senyum itu berubah menjadi seringai dingin ketika ambisi dan kekuasaan membutakan hatinya. Mei Lan dikhianati, difitnah, dan ditinggalkan begitu saja di altar yang telah ia bangun dengan sepenuh hati. Kekaisaran bisnis keluarganya jatuh, dan martabatnya hancur berkeping-keping.
Luka itu masih terasa perih, membekas seperti bunga teratai yang dipaksa tumbuh di tanah yang tandus. Tetapi dari tanah tandus itulah, kekuatan baru tumbuh. Mei Lan yang dulu adalah gadis manja yang terlindungi, kini adalah wanita BERBISI yang pandai membaca permainan. Ia mempelajari seluk-beluk bisnis, politik, dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk merebut kembali apa yang telah direnggut darinya.
Tangannya terampil bermain piano, kini lebih terampil lagi memainkan intrik. Senyumnya yang dulu tulus, kini bisa berubah menjadi topeng mematikan. Ia adalah kelembutan yang dilapisi baja. Ia adalah luka yang bersemi menjadi keindahan mematikan.
Ia membiarkan Han melihatnya bangkit. Ia membiarkan Han terpesona oleh kecantikannya yang semakin matang, oleh kecerdasannya yang kini berkilauan seperti berlian. Ia membiarkan Han jatuh cinta padanya sekali lagi, bahkan lebih dalam dari sebelumnya.
Di hadapannya, di atas meja berlapis mahoni, tergeletak ponselnya. Di layar, ia mengetik pesan panjang untuk Han. Pesan yang berisi luapan amarah, dendam, dan segala luka yang pernah ia rasakan. Setiap kata adalah duri tajam yang siap merobek hatinya.
Tetapi jari-jarinya berhenti. Ia menatap pantulan dirinya di layar ponsel. Ia melihat matanya yang dulu berbinar penuh cinta, kini memancarkan ketenangan yang menakutkan.
Dengan satu tarikan napas, ia Menekan Backspace. Setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, lenyap begitu saja. Hanya tersisa layar kosong yang menyilaukan.
Ia tersenyum tipis. Dendam bukan tentang amarah yang meledak-ledak. Dendam adalah tentang kontrol. Dendam adalah tentang membuat orang yang menyakitinya menderita dalam diam, menyaksikan kejatuhannya perlahan-lahan, tanpa ia sadari bahwa dalang di balik semua itu adalah wanita yang pernah ia hancurkan.
Ia bangkit dari kursinya, mengenakan gaun sutra berwarna merah darah yang pas di tubuhnya. Ia berjalan menuju pintu, meninggalkan ruangan yang sunyi itu, meninggalkan pesan kosong yang tak pernah terkirim.
Ia akan membuat Han berlutut, bukan dengan tangis, tetapi dengan KEBANGGAANNYA SENDIRI.
Ia akan membuat mereka semua menyesal, bukan dengan amarah, tetapi dengan KETENANGANNYA YANG MEMATIKAN.
Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke belakang, dan membisikkan pada dirinya sendiri:
Karena sekarang, mahkota itu bukan lagi haknya, melainkan tanggung jawabnya.
You Might Also Like: Inspirasi Sunscreen Mineral Untuk Kulit