TOP! Aku Menatap Gedung Tinggi, Tapi Yang Menjulang Hanyalah Penyesalan



Baiklah, mari kita mulai dengan dracin absurd ini: **Aku menatap gedung tinggi, tapi yang menjulang hanyalah penyesalan.** Lampu-lampu Kota Titanium berkelap-kelip seperti kunang-kunang sekarat. Angin berbisik melalui celah-celah gedung, membawa aroma logam dan nostalgia yang menyakitkan. Di puncak gedung pencakar langit itu, berdirilah Lin Mei, generasi terakhir *Cipher*. Matanya menyipit, menatap siluet menara transmisi yang membelah langit kelabu. "Zheng, di mana kamu?" bisiknya, suaranya hilang ditelan bisingnya kota. Sinyalnya putus-putus, seperti jantung yang berdebar tak beraturan. Chatnya dengan Zheng hanya menampilkan tiga kata: "Sedang mengetik...". Selamanya. Di dimensi lain, di sebuah gubuk reyot yang terkubur di reruntuhan Kota Tua, Zheng memegang erat radio usang. Layarnya berkerlap-kerlip menampilkan potongan-potongan wajah Lin Mei, hantu dari masa depan yang tidak pernah dirasakannya. Debu berterbangan seperti salju, menutupi tangannya yang gemetar. "Lin Mei! Bisakah kau mendengarku?" teriak Zheng, suaranya parau. Radio itu hanya membalas dengan desisan statis. Dia tahu, jarak antara masa lalunya dan masa depan Lin Mei lebih dari sekadar ruang dan waktu. Itu adalah jurang penyesalan, harapan yang pupus, dan janji-janji yang dilupakan. Mereka adalah dua jiwa yang terikat benang tak terlihat, terpisah oleh arus sungai waktu. Lin Mei hidup di masa depan yang dingin dan steril, masa depan di mana emosi adalah komoditas, dan cinta adalah *virus*. Zheng terjebak di masa lalu yang berdebu dan berdarah, masa lalu di mana cinta adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Mereka saling mencari melalui celah-celah dimensi, melalui sinyal yang hilang dan chat yang tak pernah terkirim. Mereka saling mencintai, meski tak pernah benar-benar bersama. Cinta mereka adalah *paradoks*, simfoni yang tak pernah selesai. Suatu malam, Lin Mei menemukan pesan tersembunyi di dalam kode transmisi. Itu adalah gambar sebuah bunga *edelweiss* yang memudar, simbol cinta abadi. Air matanya menetes membasahi layar. Di saat yang sama, Zheng menemukan sebuah surat tua di dalam saku jaketnya. Di atasnya tertulis dengan tinta yang nyaris pudar: "Untuk Lin Mei, cintaku yang hilang." Saat itu, sebuah *kebenaran Ganjil* terungkap. Lin Mei dan Zheng bukan hanya dua kekasih yang terpisah waktu. Mereka adalah *reinkarnasi* dari dua jiwa yang pernah bersama di masa lalu yang jauh, masa lalu yang telah dilupakan oleh sejarah. Cinta mereka bukan awal yang baru, melainkan **ECHO** dari kehidupan yang tak pernah selesai. Kutukan, atau mungkin takdir? Langit Kota Titanium mulai bergemuruh. Alarm berbunyi nyaring. Dunia seolah runtuh di sekitar mereka. Lin Mei memejamkan mata, merasakan sakit yang familiar di dadanya. Zheng tersenyum pahit, menggenggam erat radio usangnya. "Aku tahu..." bisik Zheng, tepat sebelum semuanya menjadi gelap. Dan kalimat terakhir Lin Mei, sebelum kegelapan menyelimuti segalanya, terucap bagai pesan terakhir dari alam baka: *Mungkin… ini akhir dari awal yang tidak pernah ada, bukan?*
You Might Also Like: Harus Baca Aku Menulis Email Terakhir

Post a Comment

Previous Post Next Post