Dracin Seru: Ia Mengetik "Aku Kangen" Lalu Menghapusnya Seperti Dulu Ia Menghapusku



Baiklah, ini kisah Dracin intens yang saya coba bangun: **Ia Mengetik "Aku Kangen" Lalu Menghapusnya Seperti Dulu Ia Menghapusku** Malam itu kelabu, lebih kelam dari gulita dalam sumur tua. Hujan mencambuk atap wihara tempat Lianhua bersembunyi. Di luar, salju turun seperti ribuan pisau kecil yang menyayat. Di dalam, perapian meraung, tapi tidak mampu mengusir dingin yang merambat dari tulang ke sumsum. Ia menggenggam ponselnya, layar memancarkan cahaya biru pucat di wajahnya yang tirus dan penuh bekas luka. Jemarinya gemetar di atas keyboard. *Aku kangen.* Tiga kata itu terpampang di layar, sederhana namun ***MEMATIKAN.*** Ia menatapnya, seolah kata-kata itu adalah jurang tanpa dasar yang siap menelannya. Sudah lima tahun. Lima tahun sejak malam itu, malam di mana semua hancur berkeping-keping. Lima tahun sejak Zhao Yi, *cintanya,* ***KHIANATNYA,*** menghapusnya dari hidupnya seperti menghapus baris kode yang salah. Jari Lianhua bergetar lebih hebat lagi. Kenangan pahit menyerbu memorinya. Padang rumput hijau di musim semi, tawa renyah Zhao Yi, janji yang diucapkan di bawah pohon sakura yang tengah merekah. *Kebohongan.* Semuanya bohong. Lianhua ingat darah. Darah di salju, merah menyala seperti bara api di tengah keputihan yang membeku. Darah kakaknya, tergeletak tak bernyawa di pangkuannya. Zhao Yi yang berdiri di atasnya, pedang berlumuran darah di tangannya, tatapan dingin tanpa sedikit pun penyesalan. Alasan Zhao Yi? Kakaknya adalah saingan bisnis yang terlalu berbahaya. Cinta? Itu hanya topeng. Ia menghapus kata-kata itu. Seperti dulu Zhao Yi menghapusnya. Dupa di altar mengepulkan asap tipis, aromanya pahit dan menyengat. Lianhua berlutut, air mata meleleh di antara asap dupa. Ia tidak menangis karena cinta, tapi karena **KEBENCIAN.** Kebencian yang telah membusuk di dalam hatinya selama lima tahun, membelit jiwanya seperti tanaman merambat beracun. Ia telah merencanakan ini dengan *sangat* teliti. Lima tahun persiapan, lima tahun menyempurnakan penyamarannya, lima tahun mengasah *pedangnya.* Zhao Yi akan datang. Ia tahu itu. Lianhua telah mengirimkan surat anonim, memancingnya dengan rahasia lama yang terpendam. Rahasia tentang kematian ayah Zhao Yi, rahasia yang hanya diketahui oleh Lianhua dan kakaknya. Pintu wihara berderit terbuka. Zhao Yi berdiri di ambang pintu, wajahnya dingin dan tanpa ekspresi. Angin malam membawa serta aroma salju dan kematian. "Lianhua," ucapnya, suaranya serak. Lianhua berdiri. Ia menatap Zhao Yi, tatapan matanya sedingin es. "Zhao Yi," balasnya. Mereka saling menatap, dua jiwa yang terikat oleh cinta dan kebencian, di mana rahasia lama akhirnya akan terbongkar. Malam panjang ini akan berakhir dengan ***DARAH.*** Pertarungan itu singkat dan brutal. Tidak ada kata-kata cinta atau penyesalan. Hanya suara pedang beradu, napas terengah-engah, dan desisan angin. Lianhua bergerak cepat dan mematikan, setiap tebasan pedangnya adalah representasi dari lima tahun penderitaan dan amarahnya. Zhao Yi, meskipun terkejut dengan kemampuan Lianhua, melawan dengan sengit. Namun, Lianhua lebih kuat. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Ia telah kehilangan segalanya, ia tidak punya apa-apa lagi untuk ditakutkan. Zhao Yi, di sisi lain, takut akan kehilangan kekuasaan dan reputasinya. Ketakutan itu membuatnya lemah. Pedang Lianhua menembus jantung Zhao Yi. Darah memuncrat ke wajahnya. Zhao Yi ambruk ke lantai, matanya nanar menatap langit-langit wihara. Lianhua berlutut di sampingnya. Ia berbisik di telinganya, "Kau pikir bisa menghapuskanku? Kau salah. Aku akan menghantuimu selamanya." Zhao Yi mengembuskan napas terakhirnya. Lianhua berdiri, membersihkan pedangnya, dan berjalan keluar wihara. Ia meninggalkan jasad Zhao Yi di sana, di antara dupa dan salju. Balas dendamnya telah selesai. Tapi hatinya tetap kosong. Ia menatap langit malam yang kelam. Di kejauhan, lolongan serigala memecah kesunyian. Lianhua tersenyum tipis. Senyum yang lebih dingin dari es. *Aku akan membuat semua yang kau cintai, menderita.* Dan saat itu, dari balik bayang-bayang, sepasang mata merah menyala mengawasinya, menyimpan janji yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri…
You Might Also Like: Jualan Skincare Bisnis Rumahan Kota_0435406832

Post a Comment

Previous Post Next Post