Cerita Populer: Aku Adalah Dosa Yang Ia Doakan Setiap Malam



Tentu saja! Berikut adalah kisah dracin pendek yang Anda minta, dengan sentuhan misteri dan intrik: **Aku Adalah Dosa yang Ia Doakan Setiap Malam** Kabut menggantung pekat di lereng Gunung Langit, menyelimuti puncak-puncaknya dalam kerudung abu-abu yang dingin. Lorong-lorong Istana Jade, yang dulunya ramai dengan tawa dan alunan kecapi, kini terasa sunyi, hanya diisi bisikan angin yang menerobos celah-celah ukiran naga. Di tengah kesunyian itu, sesosok pria berdiri. Bukan pria sembarangan. Ia adalah Wei Lian, yang seharusnya *MATI* sepuluh tahun lalu. Wajahnya, dulu penuh senyum cerah, kini dipenuhi garis-garis tegas, matanya menyimpan badai yang tak terucapkan. Ia kembali, bukan sebagai arwah penasaran, melainkan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak berani diucapkan siapapun. Di ujung lorong, sosok wanita menunggunya. Putri Mei Lan, dengan gaun sutra putih yang berkibar lembut, bagai bunga plum di tengah salju. Sepuluh tahun lalu, ia adalah tunangannya. Sepuluh tahun lalu, ia menyaksikan Wei Lian jatuh ke jurang, disaksikan oleh seluruh istana. "Wei Lian?" bisik Mei Lan, suaranya serak tertahan. "Kau... kembali?" Wei Lian mengangguk pelan. "Aku mendengar doa-doamu, Mei Lan. Setiap malam, kau menyebut namaku. Bukan sebagai kenangan indah, tapi sebagai *DOSA* yang kau sembah." Mei Lan melangkah mendekat, matanya berkilat seperti permata giok yang retak. "Kau tidak mengerti. Aku berduka, Wei Lian. Aku..." "Kau merencanakan segalanya," potong Wei Lian, suaranya tenang, namun menusuk seperti jarum akupuntur. "Kecelakaan itu... bukan kecelakaan. Kau yang membisikkannya ke telinga Kaisar. Kau yang membuatku *LENYAP*." "Kebohongan!" seru Mei Lan, namun suaranya bergetar. "Aku mencintaimu!" "Cinta?" Wei Lian tersenyum getir. "Cinta adalah racun yang kau gunakan untuk menjeratku. Kau menginginkan tahta, Mei Lan. Dan aku, hanya menjadi penghalang." Mei Lan terdiam. Kabut semakin menebal, menutupi wajahnya yang pucat. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan gelang giok putih di pergelangan tangannya. Gelang yang sama dengan yang ditemukan di dekat jurang, sepuluh tahun lalu. Gelang yang sengaja ia lepas agar Wei Lian jatuh. "Kau benar," bisik Mei Lan akhirnya. "Aku menginginkan tahta. Dan aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya." Wei Lian mengangguk, sorot matanya dingin. "Lalu, kau akan mengerti sekarang. Kau tidak pernah mengendalikanku, Mei Lan. *AKU* yang membiarkanmu mengira begitu. Selama sepuluh tahun, aku mengumpulkan kekuatan. Sepuluh tahun, aku membangun kembali diriku. Sepuluh tahun, aku menunggu momen ini." Ia melangkah maju, mendekati Mei Lan. "Kau pikir aku mati? Kau salah. Aku hanya bersembunyi, menunggu waktuku. Dan sekarang... waktuku telah tiba." Wajah Mei Lan menunjukkan ketakutan yang baru pertama kali ia rasakan. Ia menatap Wei Lian, bukan lagi pria yang pernah ia cintai, melainkan *MONSTER* yang ia ciptakan sendiri. Wei Lian membungkuk, berbisik di telinga Mei Lan, kata-kata yang membuatnya membeku di tempat: "Kau pikir kau memegang kendali? Sayang sekali, Mei Lan. *Akulah dalang dari drama ini, dan kau hanyalah boneka di tanganku sejak AWAL.*"
You Might Also Like: 96 Human Body Svgs For Free Download

Post a Comment

Previous Post Next Post