Kau Memberiku Hadiah Kecil, Tapi Maknanya Terlalu Besar
Denting guqin malam itu mengalun lirih, menusuk kalbu seperti jarum es. Di balik tirai sutra berwarna rembulan, Mei Lin duduk termenung. Cahaya lilin menari-nari di wajahnya yang pucat, menampakkan bayangan kesedihan yang mendalam. Lima tahun. Lima tahun ia menyimpan rahasia ini, sebuah bara api yang membakar hatinya dari dalam.
Ia ingat betul hari itu. Hari dimana Pangeran Zhao, kekasihnya, memberikan sebuah jepit rambut giok berwarna hijau zamrud. Bentuknya sederhana, namun terasa berat di tangannya. "Untukmu, Mei Lin. Sebagai tanda cintaku yang abadi," bisiknya, lalu mengecup keningnya.
Kata-kata itu sekarang terasa bagai racun. Karena beberapa hari kemudian, Mei Lin melihat Pangeran Zhao bersumpah setia pada putri dari kerajaan seberang. Pertunangan yang megah, dipenuhi janji politik dan aliansi.
Pengkhianatan.
Namun, Mei Lin tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya terdiam. Bukan karena ia lemah, tapi karena jepit rambut giok itu menyimpan rahasia yang lebih besar dari sekadar patah hati. Di balik kilaunya, terukir sebuah simbol kecil, hampir tak terlihat: lambang rahasia keluarga kerajaan musuh.
Pangeran Zhao menghianati kerajaannya sendiri.
Mei Lin sadar. Hadiah kecil itu bukan tanda cinta, melainkan pesan terselubung. Ia adalah kurir yang tidak sadar, pion dalam permainan politik yang rumit. Jika ia mengungkap kebenaran, perang akan pecah. Ribuan nyawa akan melayang. Dan ia… ia mencintai Pangeran Zhao, meski pria itu telah menghancurkan hatinya.
Maka, Mei Lin memilih diam. Ia menjadi bayangan, menjauh dari pusat perhatian. Ia menikah dengan seorang pedagang kaya, hidup nyaman namun kosong. Namun, setiap malam, ia selalu memandangi jepit rambut giok itu. Mengingat pengkhianatan, cinta, dan pengorbanan.
Tahun-tahun berlalu. Kekuatan kerajaan seberang semakin besar. Aliansi yang dulu diimpikan Pangeran Zhao, kini menjadi mimpi buruk. Perlahan namun pasti, kerajaan itu mulai mencengkeram kendali ekonomi dan politik. Rakyat menderita.
Suatu malam, pedagang kaya, suaminya, pulang dengan wajah pucat. Ia bercerita tentang perjanjian dagang yang merugikan, tentang bagaimana kerajaan seberang secara sistematis menghancurkan para pedagang lokal. Mei Lin mendengarkan dengan tenang. Lalu, ia tersenyum pahit.
Kini, rahasia itu tak lagi menjadi beban. Ia tahu apa yang harus dilakukan.
Dengan satu surat kaligrafi yang ia kirimkan secara anonim ke Dewan Penasihat Kerajaan, dengan bukti berupa salinan simbol rahasia dari jepit rambut giok (yang dulu sempat ia gambar ulang dan simpan), semua terungkap. Pangeran Zhao, yang kini menjadi Raja Zhao, dilengserkan. Aliansi dibatalkan. Kerajaan itu kembali ke jalur yang benar.
Mei Lin tidak membalas dendam dengan kekerasan. Ia hanya membiarkan takdir yang berbicara. Takdir yang membalikkan keadaan, menghadirkan keadilan yang pahit namun indah. Pangeran Zhao kehilangan segalanya: tahta, cinta, dan kehormatan.
Di akhir hayatnya, Mei Lin membuang jepit rambut giok itu ke sungai. Ia menyaksikan benda itu tenggelam, membawa serta kenangan pahit dan rahasia besar yang telah lama ia simpan.
Ia tahu, meski Pangeran Zhao tidak akan pernah tahu, dialah yang menyelamatkan kerajaannya. Dialah yang membayar pengkhianatan itu dengan pengorbanan seumur hidupnya.
Lalu, ia berbisik lirih pada angin malam, "Apakah kau menyesal, Zhao?"
...Tapi, yang ia sesali adalah, apakah Zhao pernah benar-benar mencintainya?
You Might Also Like: Constitutional Monarchy Vs Republic