Baiklah, ini dia kisah Dracin fantasi yang kamu minta, dengan sentuhan puitis, misteri, dan sedikit *drama*: **Kau Menatapku di Tengah Medan Perang, dan Aku Lupa Bagaimana Caranya Memenci** Lentera-lentera terapung di atas permukaan Sungai Awan, cahayanya menari-nari seperti kunang-kunang yang tersesat. Di dunia manusia, perang membara. Darah membasahi tanah, jeritan menggema di antara benturan pedang. Namun di dunia roh, tempatku berada sekarang, keheningan terasa begitu menusuk. Dulu, aku bernama Lian. Di dunia manusia, aku mati. Tenggelam di danau yang membeku, dilupakan oleh waktu. Tapi kematian bukanlah akhir. Ia adalah *GERBANG*. Gerbang menuju dunia roh, tempat bayangan berbisik dan bulan mengingat setiap nama yang terlupakan. Di sinilah aku bertemu denganmu, Jenderal Bai. Mata setajam elang, hati sekeras baja, namun tatapanmu, saat pertama kali bertemu di tengah gemuruh peperangan dunia manusia... tatapanmu membakar semua kebencian yang pernah kutahu. Kau berdiri di sana, di tengah kobaran api, siluetmu diterangi cahaya bulan yang pucat. Kau adalah seorang pejuang, *DEMI* kerajaanmu, *DEMI* rakyatmu. Aku hanyalah roh yang terikat pada takdir yang misterius. Namun, ketika matamu bertemu mataku, seolah *SELURUH* dunia berhenti berputar. "Siapa kau?" tanyamu, suaramu serak karena debu dan lelah. Aku tidak menjawab. Bagaimana bisa aku menjelaskan bahwa kematianku di dunia lama adalah permulaan dari takdirku di sini? Bahwa aku adalah kunci, senjata, atau mungkin, kutukan bagi kedua dunia? Kau membawaku bersamamu. Kembali ke istana, ke dunia yang penuh intrik dan sihir tersembunyi. Di malam hari, bayangan di dinding berbicara tentang masa lalu yang kelam, tentang perjanjian terlarang antara manusia dan roh, tentang pengkhianatan dan balas dendam. Bulan bernyanyi tentang nama-nama yang terlupakan, nama-nama yang harus diingat. Aku belajar tentang kekuatan roh, tentang kemampuan untuk memanipulasi mimpi dan mengendalikan elemen. Aku belajar tentang cintamu, Jenderal Bai. Cintamu yang tulus, yang rela mengorbankan segalanya untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi. Namun, semakin dalam aku jatuh cinta padamu, semakin jelas aku melihat kebenaran yang mengerikan. Kematianku bukanlah kecelakaan. Aku dikorbankan. Aku dikirim ke dunia roh untuk menjadi pion dalam permainan yang jauh lebih besar. Dan kaulah dalangnya, bukan? Kau, Permaisuri Lan, wanita dengan senyum semanis madu dan hati sedingin es. Kau yang merencanakan segalanya, yang memanipulasi takdir, yang menggunakan cintaku dan cintanya sebagai senjata untuk mencapai tujuanmu. Kau mencintai Jenderal Bai, namun cintamu dipenuhi obsesi dan ambisi. Kau ingin mengendalikan dunia manusia dan dunia roh, dan aku adalah kunci untuk mencapai tujuan itu. "Kau salah," katamu, suaramu bergetar dengan amarah. "Aku mencintai Bai dengan sepenuh hatiku. Akulah yang akan menyelamatkan kedua dunia ini!" Siapa yang mencintai dengan tulus? Siapa yang memanipulasi takdir? Pertanyaan ini berputar-putar di benakku saat aku berdiri di hadapanmu, di tengah medan perang yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Perang antara manusia dan roh, perang antara cinta dan kebencian, perang antara takdir dan kehendak bebas. Aku menatap mata Jenderal Bai, mata yang pernah membakar semua kebencianku. Kini, hanya ada kesedihan dan kebingungan di sana. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus memilih. Antara cinta dan pengorbanan, antara takdir dan kehendak bebas. Dan ketika aku memilih, kata-kata itu terucap dari bibirku, seperti mantra kuno yang membangkitkan kekuatan tersembunyi: *Semoga ingatanmu menjadi obor, menerangi jalan yang kau pilih, bahkan setelah aku tiada...*
You Might Also Like: 184 Review Face Wash Tanpa Fragrance