Cerpen: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku



## Tangisan yang Menyambut Balas Dendamku Hujan kota membasahi jendela apartemenku, seperti air mata yang enggan tumpah. Setiap tetesnya adalah pengingat. Pengingat tentang **dia**. Tentang tawa renyahnya yang dulu memenuhi ruangan ini, kini hanya bergema dalam *gema* notifikasi yang sunyi. Dulu, ponselku berdering tanpa henti, dibanjiri pesan-pesan darinya. Kini, layar itu hanya menampilkan sisa chat yang tak terkirim, kata-kata yang tersimpan rapat seperti rahasia di balik senyumnya. Aroma kopi mengepul dari cangkir di tanganku, pahitnya seakan meniru getirnya *kehilangan*. Dulu, kami selalu menikmati kopi bersama, berbagi mimpi di antara uap panas dan obrolan ringan. Mimpi-mimpi itu kini membeku, menjadi kepingan kenangan yang menusuk relung hati. Cinta kami lahir di antara notifikasi. Di antara sapa 'selamat pagi' yang manis dan 'selamat malam' yang menenangkan. Namun, cinta itu tumbuh di atas *dasar* yang rapuh. Di atas kebohongan. Di atas *rahasia*. Ada satu malam, aku menemukan sesuatu. Sebuah pesan. Sebuah foto. Sebuah *bukti* yang menghancurkan hatiku berkeping-keping. Dia memiliki **orang lain**. Perasaan kehilangan ini... sungguh *samar*. Seperti kabut yang menyelimuti kota ini. Aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan: fakta bahwa dia berbohong, atau kenyataan bahwa aku begitu *bodoh* untuk mempercayainya. Hubungan kami yang belum selesai ini bagai *simpul mati*, semakin ditarik semakin erat mengikatku. Aku tidak ingin berteriak. Aku tidak ingin mengamuk. Aku hanya ingin... *dia* merasakan sakit yang sama. **Balas dendamku tidak akan berdarah.** Tidak akan ada air mata. Tidak akan ada pertengkaran. Balas dendamku adalah *keheningan*. Aku menulis pesan terakhir. Bukan makian. Bukan tuduhan. Hanya sebuah kalimat singkat: "Aku tahu." Aku mengirimkannya. Lalu, aku memblokir nomornya. Di semua media sosial. Aku menghapus semua fotonya. Semua pesannya. Segala sesuatu yang mengingatkanku padanya. Keesokan harinya, aku melihatnya di kafe favorit kami. Dia menatapku dengan mata memohon. Aku membalas tatapannya. Senyumku *dingin*, *tipis*, dan *MEMATIKAN*. Aku berbalik. Melangkah pergi. Tanpa sepatah kata pun. Tanpa menoleh. Aku memilih untuk tidak mengucapkan selamat tinggal. Aku memilih untuk **MENYELESAIKANNYA** tanpa kata. Dan dalam keheningan ini, dia akan selalu bertanya-tanya... **Apa yang sebenarnya aku tahu?**
You Might Also Like: Agen Kosmetik Bisnis Tanpa Modal Kota

Post a Comment

Previous Post Next Post