Drama Baru! Senyum Yang Menutup Pintu Neraka



**Senyum yang Menutup Pintu Neraka** Hujan abu menari-nari di atas Kota Tua, saksi bisu persahabatan kami, atau lebih tepatnya, persekongkolan. Mei Lan dan aku tumbuh bersama di gang sempit ini, seperti anggrek liar yang berjuang meraih matahari. Kami adalah *saudara* tanpa ikatan darah, terikat oleh mimpi yang sama: meninggalkan neraka ini. "Mei Lan, suatu hari kita akan makan malam di istana," bisikku padanya suatu malam, saat rembulan malu-malu mengintip dari balik awan kelabu. Senyumnya merekah, *senyum yang sekarang kurasa bagai belati tersembunyi*. Kami berjanji untuk saling melindungi, untuk mendaki piramida kekuasaan bersama-sama. Mei Lan memiliki kecantikan memukau, aku memiliki otak yang licik. Kami adalah kombinasi sempurna, mesin pembunuh yang halus dan efisien. Perlahan tapi pasti, kami merayap naik. Mei Lan menjadi selir kesayangan Kaisar, aku penasihat kepercayaannya. Kekuasaan ada dalam genggaman kami. Kami sudah dekat… sangat dekat. Tapi kemudian, aroma pengkhianatan mulai tercium di udara. Mei Lan berubah. Senyumnya menjadi lebih jarang, tatapannya lebih dingin. Dia berbicara tentang *kesetiaan* pada Kaisar, tentang *tanggung jawab* pada negara. "Kau lupa, Lian Er? Kita berjanji untuk meninggalkan neraka ini, BERSAMA!" bentakku suatu malam, di taman rahasia istana. "Janji itu sudah lama mati, Lian Er. Aku sekarang adalah Selir Mei Lan. Aku memiliki kewajiban yang lebih besar." Kata-katanya menusukku seperti ribuan jarum. Aku menatap matanya, mencari secuil pun kebenaran, tapi yang kutemukan hanyalah *KEGELAPAN*. Rahasia tersembunyi mulai terkuak. Ayah Mei Lan, seorang pemberontak yang dituduh mengkhianati Kaisar, sebenarnya TIDAK BERSALAH. Akulah yang menjebaknya, untuk memuluskan jalanku menuju kekuasaan. Mei Lan tahu. Dia selalu tahu. *Dia membalas dendam, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk ayahnya*. Dia telah mengkhianatiku, membiarkanku terjerat dalam jaring kebohongan dan pengkhianatan yang aku rajut sendiri. Malam itu, di depan tahta Kaisar, kebenaran terungkap. Mei Lan menunjukku sebagai dalang segala kekacauan, sebagai pengkhianat yang haus kekuasaan. Kaisar murka. Aku divonis mati. Saat algojo mengangkat pedangnya, aku menatap Mei Lan. Senyumnya kembali hadir, *lebih indah dari sebelumnya, tapi juga lebih mematikan*. “Mengapa, Mei Lan? Mengapa kau mengkhianatiku?” bisikku, air mata mengalir di pipiku. Dia mendekat, berbisik di telingaku, "Aku hanya membalas apa yang menjadi hak Ayahku, Lian Er. Kau harus belajar, **SETIAP KEJAHATAN PASTI ADA HARGA YANG HARUS DIBAYAR**." Pedang algojo menebas leherku. Saat kegelapan merengkuhku, aku mendengar bisikan terakhir Mei Lan, "Cinta dan benci hanyalah dua sisi dari koin yang sama." *** *Di balik senyum itu… tersembunyi neraka yang lebih mengerikan.*
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Digigit Kelelawar Wajib

Post a Comment

Previous Post Next Post