TOP! Cinta Yang Terkunci Di Dalam Kotak Perak



**Kotak Perak Senja** Hujan menggigil di atas atap paviliun tua, persis seperti malam itu, sepuluh tahun lalu. Aroma melati yang dulu begitu memabukkan kini hanya menyisakan getir di rongga dada. Mei, berdiri di ambang pintu, membiarkan embun membasahi rambutnya yang tergerai. Cahaya lentera yang nyaris padam memantulkan bayangan panjangnya di dinding, bayangan yang patah, sama seperti hatinya. Dari kejauhan, ia melihatnya. Ren, berdiri di bawah pohon maple yang daunnya mulai berguguran. Ren yang dulu mencintainya, Ren yang dulu ia cintai, Ren yang mengkhianatinya. Mata mereka bertemu. Sepuluh tahun berlalu, tetapi tatapan itu masih membakar, meskipun kini membara dengan amarah dan kebencian. Mei mengingat senyum Ren, sentuhan tangannya, bisikan cintanya… semuanya palsu. Pengkhianatan Ren telah merenggut segalanya: masa depannya, keluarganya, dan keyakinannya pada cinta. “Ren,” bisik Mei, suaranya serak. “Apa yang kau inginkan?” Ren melangkah maju, setiap langkahnya berat, seolah ia membawa beban masa lalu yang sama. “Aku… ingin meminta maaf.” Mei tertawa sinis. “Maaf? Setelah sepuluh tahun? Apa kau pikir kata-kata bisa mengembalikan apa yang telah kau ambil dariku?” Bayangan Ren memanjang di tanah, memanjang dan menakutkan. “Aku tahu aku salah, Mei. Aku… aku *terpaksa* melakukannya.” Hujan semakin deras. Mei merasakan dadanya sesak. Ia mengingat malam itu, malam ketika ia melihat Ren berselingkuh dengan adiknya, malam ketika ia kehilangan segalanya. Ingatan itu begitu menyakitkan, begitu nyata, seolah baru terjadi kemarin. “Terpaksa?” Mei mengejek. “Omong kosong! Kau memilihnya, Ren. Kau memilihnya daripada aku!” Ren menggelengkan kepalanya. “Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Mei. Aku… aku melakukannya untuk melindungimu.” Mei melangkah maju, mendekat ke Ren. Ia menatap mata Ren dalam-dalam, mencari kebenaran di sana. Yang ia temukan hanyalah penyesalan dan ketakutan. “Melindungiku? Dengan menghancurkanku?” Mei bertanya, suaranya bergetar. “Ya! Karena… mereka akan membunuhmu, jika aku tidak melakukan apa yang mereka inginkan!” Ren berteriak, suaranya memecah kesunyian malam. Mei terdiam. Kebenaran itu menghantamnya seperti gelombang tsunami. Selama ini, ia membenci Ren, menyalahkannya atas semua yang telah terjadi. Tetapi, mungkin… mungkin ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan. “Siapa *mereka*?” Mei bertanya, napasnya tercekat. Ren menundukkan kepalanya. “Itu tidak penting lagi. Yang penting adalah… aku mencintaimu, Mei. Aku selalu mencintaimu.” Mei merasakan hatinya hancur. Cinta itu masih ada, tersembunyi di balik kebencian dan dendam. Tetapi, cinta itu terlalu pahit, terlalu terlambat. “Terlalu terlambat, Ren,” kata Mei, suaranya datar. “Karena aku… aku telah merencanakan ini semua selama sepuluh tahun.” Ren mengangkat kepalanya, menatap Mei dengan mata terbelalak. “Apa maksudmu?” Mei tersenyum, senyum dingin yang tidak mengenal ampun. “Kau pikir aku menderita selama ini? Kau salah. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam.” Cahaya lentera benar-benar padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan total. Hujan terus menggigil, membasahi bumi dan menyembunyikan jejak kejahatan. “Karena Ren…” bisik Mei, “Semua ini... ***adalah untuk membangkitkan kembali Klan Naga Hitam, dan kau… adalah kuncinya.***”
You Might Also Like: Jualan Skincare Modal Kecil Untung

Post a Comment

Previous Post Next Post