Oke, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Aku Adalah Doa yang Tak Pernah Terkabul, Tapi Selalu Kau Ucapkan** Aroma dupa cendana menyengat rongga hidung. Setiap pagi, aku terbangun di ranjang sutra ini, di istana megah yang terasa asing namun juga begitu familier. Namaku, kata mereka, adalah Putri Lian Hua. Tapi di balik nama itu, bersemayam serpihan ingatan tentang Mei Lan, seorang tabib desa yang mati mengenaskan di hutan bambu, berabad-abad lalu. Dunia ini, meski indah dan penuh kemewahan, terasa kabur. Seperti lukisan cat air yang warnanya mulai luntur. Aku merasa terikat pada sesuatu, pada seseorang. Sesuatu yang *teramat* penting dan belum terselesaikan. Lama kelamaan, serpihan ingatan itu membentuk sebuah gambar yang lebih jelas. Aku ingat senyum hangat Lin Wei, kekasihku, seorang pendekar gagah berani yang berjanji akan melindungiku selamanya. Lalu, aku ingat tatapan dinginnya saat pedangnya menancap di dadaku, di bawah rimbunnya bambu yang dulu kurasa begitu teduh. **PENGKHIANATAN!** Kenapa? Mengapa Lin Wei tega melakukan itu? Ingatan lain muncul. Seorang wanita cantik, dengan senyum mematikan, berdiri di samping Lin Wei. Putri Jing, adik tiriku. Ia selalu iri dengan kebahagiaanku, dengan cinta Lin Wei yang hanya untukku. Ternyata, mereka bersekongkol. Mereka meracuniku perlahan, lalu menghabisiku dengan keji di hutan bambu. Di kehidupan ini, Lin Wei telah bereinkarnasi. Ia adalah Kaisar yang berkuasa, Zhao Yun. Dan Putri Jing...ia adalah Permaisuri, selir kesayangan Kaisar yang kekuasaannya hampir menandingi Kaisar sendiri. Setiap kali aku melihat Kaisar, rasa sakit dan amarah bercampur aduk. Aku *ingin* membalas dendam, tapi hatiku diliputi kesedihan yang mendalam. Bagaimana bisa aku menyakiti seseorang yang pernah sangat kucintai? Aku memutuskan untuk bermain dalam permainan mereka. Aku mendekati Kaisar, memikatnya dengan kecantikanku yang katanya *legendaris*. Permaisuri mendesis, matanya memancarkan kebencian. Pada malam bulan purnama, aku berdiri di balkon istana bersama Kaisar. Di bawah cahaya bulan yang pucat, aku menceritakan kisah Mei Lan, kisah pengkhianatan dan cinta yang berujung tragis. Aku melihat raut wajahnya berubah. Ada kebingungan, penyesalan, dan akhirnya... *pengakuan*. Kaisar Zhao Yun ingat. Ia ingat semuanya. Air mata mengalir di pipinya. Ia mengakui dosanya, mengakui bahwa ia terpaksa melakukannya demi menyelamatkan kerajaannya dari ancaman perang. Putri Jing mengancam akan membocorkan rahasia negara jika ia tidak membunuhku, Mei Lan. Aku tersenyum tipis. Balas dendamku bukan dengan pedang atau racun. Balas dendamku adalah dengan melepaskan Kaisar dari belenggu masa lalu. Aku memaafkannya. Keesokan harinya, aku menghadap Kaisar. Aku meminta izin untuk meninggalkan istana, untuk kembali ke desa kelahiranku dan hidup tenang sebagai seorang tabib. Ia mengabulkannya dengan berat hati. Sebelum aku pergi, aku berbisik di telinganya, "Mungkin, di kehidupan lain, kita bisa saling mencintai tanpa ada *dosa*." Aku meninggalkan istana dengan hati yang ringan, tapi juga *kosong*. Aku tahu, takdir telah berubah. Permaisuri akan menggali lubangnya sendiri. Dan Kaisar...ia akan hidup dengan penyesalan abadi. Di gerbang kota, aku menoleh sekali lagi ke arah istana. Lalu, aku berjalan pergi, meninggalkan semuanya di belakang. ***Mungkin, seribu tahun lagi, di bawah pohon sakura yang mekar, kita akan bertemu lagi, bukan sebagai musuh, tapi sebagai dua jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian abadi...***
You Might Also Like: 33 Covenant Series By Jennifer
