Aku Mencium Tangan Mayatmu, Karena Hanya Itu Caraku Berpamitan.



**Aku Mencium Tangan Mayatmu, Karena Hanya Itu Caraku Berpamitan.** Hujan berbisik di atas pusara. Butir-butirnya seperti air mata yang enggan berhenti, membasahi tanah merah yang baru saja merenggutmu. Udara dingin menusuk tulang, seolah rohmu masih menggigil di dekatku. Aku berlutut, merasakan lumpur menembus celana panjangku, mengabaikannya. Yang kurasakan hanyalah *kehampaan*. Tanganku gemetar saat meraih jemarimu yang sudah membeku. Dinginnya menembus sarung tangan, mengingatkanku pada tatapan terakhirmu; tatapan yang penuh tanya, yang tidak sempat kujawab. *Maafkan aku*, bisikku. Suaraku hilang ditelan deru hujan. Maafkan aku karena tidak sempat mengatakan yang sebenarnya. Maafkan aku karena kebodohanku. Kemudian, aku mencium tanganmu. Bibirku membeku menyentuh kulit pucat itu. Hanya ini caraku berpamitan. Hanya ini caraku menyampaikan semua penyesalan yang menggunung di dadaku. *** Malam-malam setelah pemakaman, aku merasakan kehadirannya. Bayangan yang bergerak di sudut mata, hembusan angin yang tiba-tiba terasa menusuk, bau melati yang samar di tengah malam buta. Aku tahu itu dia. Rohnya. *Belum* bisa pergi. Ia gentayangan di antara dunia hidup dan mati, mencari sesuatu. Awalnya, aku pikir ia datang untuk membalas dendam. Bukankah ia meninggal dengan *tidak adil*? Bukankah seharusnya ia marah, menuntut keadilan? Namun, semakin lama aku merasakan kehadirannya, semakin jelas kurasakan bahwa *bukan* itu yang ia cari. Bukan teriakan kemarahan, bukan dentuman amarah, bukan dendam yang membara. Tapi sesuatu yang lebih lembut, lebih rapuh. Sesuatu yang hilang. Aku mulai mencari tahu. Mengunjungi tempat-tempat yang pernah ia singgahi, berbicara dengan orang-orang yang mengenalnya. Setiap petunjuk bagaikan setetes embun di tengah gurun. Lambat laun, aku mulai memahami apa yang *sebenarnya* ia cari. Ia mencari kebenaran. Bukan tentang siapa yang membunuhnya, tapi tentang *mengapa* ia dibunuh. Tentang rahasia yang ia simpan rapat-rapat, rahasia yang akhirnya merenggut nyawanya. Rahasia itu tersembunyi di balik senyumnya yang cerah, di balik tawanya yang renyah. Rahasia tentang *cinta* yang terlarang, tentang pengkhianatan yang mendalam, tentang janji yang dilanggar. Semakin aku mendekati kebenaran, semakin kuat aku merasakan kehadirannya. Seolah ia membimbingku, menunjukkan jalan yang harus kutempuh. Aku merasa ia ada di setiap langkahku, *mengawasi*. *** Akhirnya, aku menemukannya. Surat wasiat yang ia sembunyikan di balik lukisan kesukaannya. Surat itu berisi pengakuan dosa, permintaan maaf, dan harapan terakhir. Di akhir surat, ia menulis: "Aku hanya ingin kedamaian. Bukan untukku, tapi untuk semua orang yang aku cintai." Saat aku membaca kalimat itu, angin bertiup kencang. Bau melati semakin kuat, memenuhi ruangan. Aku merasakan sentuhan lembut di pipiku, seolah ia mengusap air mataku. *Ia sudah menemukan kedamaiannya*. Kemudian, semuanya menjadi sunyi. Hujan berhenti. Bayangan itu menghilang. Bau melati memudar. Apakah ia akhirnya tersenyum untuk terakhir kalinya…?
You Might Also Like: Mimpi Tersesat Di Jalan Menurut

Post a Comment

Previous Post Next Post