Absurd tapi Seru: Bayangan Yang Mengikuti Langkahku



**Kisah tentang Hujan, Bayangan, dan Dendam yang Membara** Hujan menggigil kota. Airnya merayapi dinding-dinding usang kedai teh "Melati Senja," tempat Mei duduk seorang diri. Lentera di atas mejanya nyaris padam, cahayanya berkedip-kedip seolah menari dalam kesedihan yang sama dengan hatinya. Di luar, bayangan pohon bambu menari liar ditiup angin, **PATAH** dan tak beraturan. Dulu, kedai ini adalah saksi bisu janji-janji mereka. Dulu, dia dan Li Wei, kekasihnya, sering duduk berdua di sini, berbagi tawa dan mimpi di bawah cahaya lentera yang sama. Sekarang, hanya ada kesunyian yang menyesakkan. Li Wei. Nama itu seperti duri dalam hatinya. Pengkhianatan itu bagai belati yang ditancapkan perlahan, menyisakan luka yang menganga. Mei tahu, dia seharusnya membenci Li Wei. Seharusnya melupakan semua kenangan indah itu. Namun, bayangan Li Wei terus *MENGUNTIT* langkahnya, menghantuinya di setiap sudut kota. Hujan semakin deras. Mei memejamkan mata, mengingat malam itu. Malam ketika Li Wei pergi, meninggalkannya demi ambisi dan kekuasaan. Malam ketika hatinya hancur berkeping-keping, seperti kaca yang jatuh dari ketinggian. Dia membuka mata, menatap bayangan yang menari di dinding. Sebuah senyum tipis, dingin, terukir di bibirnya. Selama ini, dia berpura-pura lemah. Berpura-pura patah hati. Berpura-pura menerima takdir. Namun, di balik mata teduhnya, dendam membara. "Kau pikir aku akan membiarkanmu bahagia, Li Wei?" bisiknya pelan, suaranya tenggelam dalam gemuruh hujan. Jari-jarinya meremas cangkir teh, nyaris pecah. Mei telah lama menyusun rencana. Sebuah rencana yang rapi, terstruktur, dan **KEJAM**. Dia akan menghancurkan Li Wei, bukan dengan amarah yang meledak-ledak, tapi dengan kesabaran dan ketenangan yang mematikan. Dia akan mengambil semua yang Li Wei miliki, membuatnya merasakan sakit yang sama, bahkan *LEBIH* sakit. Bulan berganti bulan. Mei terus mengumpulkan informasi, membangun jaringan, menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangannya. Dia belajar dari kesalahan Li Wei, menggunakan kelemahannya untuk melawannya. Suatu malam, Li Wei datang ke kedai "Melati Senja." Wajahnya pucat, matanya sayu. Kekuasaan yang selama ini digenggamnya mulai runtuh. "Mei..." lirihnya, suaranya bergetar. "Aku... aku membutuhkanmu." Mei menatapnya dengan tatapan kosong. Hatinya tidak bergetar sedikit pun. Dulu, dia akan berlari ke pelukan Li Wei, memaafkannya. Sekarang, dia hanya melihat seorang pria yang hancur, seorang pria yang akan segera merasakan murkanya. "Maaf, Li Wei," jawab Mei, suaranya sedingin es. "Aku tidak mengenalmu." Li Wei terhuyung mundur, matanya memancarkan keputusasaan. Mei tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang pahit. Saat Li Wei berbalik dan berjalan keluar dari kedai, meninggalkan Mei dalam kesunyian yang dingin, Mei menatap lentera yang cahayanya semakin redup. Di dalam redupnya cahaya lentera itu, Mei menyadari bahwa bayangan Li Wei yang selama ini menguntitnya, bukanlah bayangan Li Wei sendiri, melainkan... **BAYANGAN PUTRANYA!**
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Bayangan Itu Menyentuh

Post a Comment

Previous Post Next Post