Dendam yang Tumbuh dari Cinta yang Hancur
Di balik tabir sutra kabut pagi, terlukis wajahmu. Bukan di kanvas, melainkan di ingatan yang membeku. Senyummu, secerah mentari di musim semi, kini hanyalah bayangan di danau yang keruh. Cinta kita, dahulu bagai bunga teratai yang mekar di tengah lumpur, kini layu dimakan dendam.
Dulu, tanganmu menggenggam tanganku, menuntun melewati lorong waktu yang berpilin. Sekarang, tanganmu menggenggam pedang, menebas masa lalu yang penuh kenangan. Suaramu, dahulu melodi harpa yang menenangkan jiwa, kini raungan badai yang mengoyak hati.
Apakah kau ingat janji di bawah pohon sakura yang berguguran? Janji untuk saling menjaga, mencintai tanpa akhir? Janji itu kini hanyalah debu yang beterbangan, ditiup angin pengkhianatan.
Aku melihatmu di lukisan kuno, di antara para dewa dan dewi. Wajahmu yang abadi, senyummu yang membeku dalam keindahan. Tapi, matamu... matamu memancarkan kesedihan yang mendalam, seolah menyimpan rahasia yang tak terungkapkan.
Di dalam mimpi, aku mengejarmu di taman labirin yang tak berujung. Setiap belokan adalah kenangan, setiap persimpangan adalah penyesalan. Kau selalu berada selangkah di depanku, menghilang di balik tirai kabut. Apakah kau memang nyata, atau hanya fatamorgana dari hatiku yang merindu?
Momen pengungkapan itu datang seperti kilat di malam gelap. Ternyata, dendammu bukan ditujukan padaku. Bukan pada cinta kita yang hancur. Dendammu adalah pada takdir. Pada dewa-dewa yang merampas kebahagiaanmu, merenggut senyummu, dan memaksamu menjadi monster yang menghancurkan.
Aku adalah korban dari perangmu melawan langit. Aku adalah harga yang harus kau bayar untuk pembalasan yang abadi. Dan keindahan semua ini... justru membuat lukaku semakin dalam. Karena aku mengerti, aku memaafkan, dan aku mencintaimu, meskipun kau telah menghancurkanku.
"Kau selalu tahu, kan?"
(Bisikan dari masa lalu itu terus berulang, menghantui setiap langkahku...)
You Might Also Like: Arti Mimpi Diserang Merak Inilah