Aku MENCium Racun dari Cangkirku, Tapi Rasanya Seperti Kepulangan
Langit Kota Kekaisaran di musim semi seratus tahun lalu menyaksikan KEJAHATAN yang tak termaafkan. Putri Lian, yang dikenal karena keanggunan dan hatinya yang lembut, dituduh mengkhianati kekaisaran. Di bawah pohon Prunus yang bermekaran, ia meminum racun dari cangkirnya, matanya menatap lurus ke arah Kaisar – cintanya yang dikhianati. Sebuah janji terlontar, "Aku akan kembali, bukan untuk cinta, tapi untuk keadilan."
Seratus tahun kemudian, bunga Prunus mekar lagi. Lahirlah Bai Lan, seorang gadis yatim piatu dengan tatapan mata yang sama persis dengan Putri Lian. Ia memiliki mimpi aneh – istana yang berkilauan, gaun sutra merah, dan seorang pria dengan mata DINGIN yang menusuk jiwa. Ia merasa... pulang, anehnya.
Suatu hari, ia bertemu dengan Pangeran Rui, pewaris tahta saat ini. Saat mata mereka bertemu, deja vu menerjangnya. Suara Pangeran Rui, dalam dan penuh wibawa, menggelitik ingatannya seolah itu adalah melodi yang sudah lama terlupakan. Ia tahu, tanpa keraguan, bahwa Pangeran Rui adalah Kaisar dari kehidupannya yang lalu.
"Aku mengenalimu," bisik Bai Lan, lebih kepada dirinya sendiri.
Pangeran Rui tertegun. "Siapa kau? Mengapa kau mengatakan hal seperti itu?"
Mulai dari situlah, Bai Lan memasuki istana, bukan sebagai seorang putri, tapi sebagai dayang biasa. Ia melihat keangkuhan, intrik, dan kebohongan yang sama yang membunuhnya seratus tahun lalu. Ia mencium aroma konspirasi di setiap sudut. Ia menemukan catatan harian Putri Lian, tersembunyi di balik lukisan kuno. Di dalamnya tertulis kebenaran: Putri Lian dijebak oleh selir kesayangan Kaisar yang cemburu. Kaisar, yang dibutakan oleh cinta dan hasutan, mempercayai kebohongan itu.
Setiap malam, di bawah sinar bulan yang pucat, Bai Lan berlatih pedang di halaman belakang. Ia tidak mengincar balas dendam dengan darah. Ia mengincar balas dendam dengan KEDAMAIAN.
Akhirnya, ia mengungkap kebenaran. Di hadapan seluruh istana, Bai Lan membacakan catatan harian Putri Lian dengan suara yang bergetar tapi TEGAS. Pangeran Rui, wajahnya pucat pasi, menyaksikan kehancuran yang ditinggalkan oleh leluhurnya. Selir kesayangan Kaisar, yang bereinkarnasi menjadi seorang Permaisuri yang kuat, terdiam.
Bai Lan tidak menuntut hukuman mati. Ia hanya berkata, "Ketahuilah, Pangeran Rui, bahwa keadilan telah ditegakkan. Putri Lian bisa beristirahat dengan tenang."
Lalu, ia berbalik dan meninggalkan istana. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan. Hanya keheningan yang lebih menusuk daripada pedang terhunus. Pengampunan yang lebih pahit daripada racun.
Di gerbang istana, ia berhenti sejenak, merasakan angin yang bertiup melalui rambutnya. Ia mendongak ke langit. Di sana, di antara bintang-bintang yang berkelap-kelip, ia mendengar bisikan halus.
"Sampai jumpa... di kehidupan selanjutnya?"
You Might Also Like: Agen Kosmetik Jualan Online Mudah Kota