Bikin Penasaran: Aku Jatuh Cinta Pada Dirimu Yang Dulu, Tapi Kau Bukan Orang Itu Lagi



**Aku Jatuh Cinta Pada Dirimu Yang Dulu, Tapi Kau Bukan Orang Itu Lagi** (Senandung pelan alunan *guqin* mengalun, tertiup angin lembap yang membawa aroma tanah basah dan bunga krisan.) Hujan menari di atas batu nisan. Butir-butir air itu seperti air mata langit, menangisi sebuah kepergian yang tak pernah selesai. Di sini, di antara barisan nisan yang membisu, aku berdiri. Bukan sebagai manusia, melainkan bayangan yang terikat, roh yang tak bisa tenang. Aku, Lin Wei, kembali. Lima tahun lalu, aku mati. Kecelakaan tragis, begitu kata orang-orang. Aku, yang *jatuh cinta* pada senyum cerahmu, pada matamu yang menyimpan seluruh bintang, pergi tanpa sempat mengucapkan kebenaran. Kebenaran yang membakar dadaku, kebenaran tentang… kau. Dulu, kau adalah musim semi dalam hidupku, Zhao Feng. Cahaya mentari yang menghangatkan jiwa. Sekarang, kau adalah musim dingin yang membekukan. Tatapanmu dingin, senyummu palsu. Kau bukan Zhao Feng yang kukenal, *bukan lagi*. Bayanganku menolak pergi dari sisimu. Aku mengikutimu kemana pun kau pergi. Melihatmu tertawa dengan orang lain, padahal tawa itu seharusnya menjadi milikku. Mendengarmu berjanji pada orang lain, janji yang dulu kau ukir di hatiku. Setiap hari, hatiku menjerit, *sakit*. Aku ingin marah, ingin menuntut balas. Kau mengambil semuanya dariku. Kebahagiaanku, mimpiku, masa depanku. Tapi… dendam bukan apa yang aku cari. Aku hanya ingin tahu *mengapa*. Mengapa kau berubah? Mengapa cinta kita berakhir seburuk ini? Malam demi malam, aku mengumpulkan kepingan ingatan, mencari petunjuk tersembunyi dalam tindakanmu. Aku menyelami masa lalu, mengurai benang merah takdir yang terputus. Akhirnya, aku menemukannya. Sebuah rahasia kelam, tersembunyi di balik fasad kesempurnaanmu. Kau… terpaksa. Kau terpaksa menikahi wanita itu, untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu dari kebangkrutan. Kau terpaksa melupakan aku, demi nama baik keluargamu. Kau terpaksa mengubah dirimu, menjadi orang asing yang kini berdiri di hadapanku. Air mata (atau mungkin hanya embun malam) mengalir di pipiku. Bukan air mata amarah, melainkan air mata *pemahaman*. Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Aku tidak bisa kembali ke pelukanmu yang dulu. Tapi, aku bisa memberimu kedamaian. Aku bisa membebaskanmu dari beban rahasia yang kau pikul seorang diri. Aku berdiri di hadapanmu, di tepi jurang antara dunia hidup dan arwah. Angin bertiup kencang, membawa bisikanku kepadamu. Aku membisikkan maaf, memaafkanmu atas segala rasa sakit yang kau berikan. Aku membisikkan perpisahan, membiarkan cintaku pergi bersama angin. Tiba-tiba, aku merasa ringan. Beban di dadaku menghilang. Aku tahu, inilah akhir dari perjalananku. Aku telah menemukan apa yang aku cari: *kedamaian*. (Angin berdesir di antara dedaunan, membawa aroma melati yang lembut.) Dan, untuk pertama kalinya sejak aku mati, aku melihatmu tersenyum, tulus dan penuh kelegaan… …mungkin, itu hanyalah pantulan cahaya bulan.
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Usaha Sampingan_27

Post a Comment

Previous Post Next Post