**Kau Memegang Tanganku di Balik Tirai, Sementara Dunia Bersorak Atas Kebohongan** Kopi pahit menari di lidah, sama pahitnya dengan notifikasi terakhir darinya yang tak kunjung datang. Hujan kota membasahi kaca jendela, memburamkan siluet gedung-gedung pencakar langit, persis seperti hatiku yang kabur dan tak berbentuk. Dulu, tanganku selalu terasa pas dalam genggamannya, bahkan di balik tirai virtual sekalipun. Kisah kita dimulai dari sana, di antara *scroll* tak berujung dan emoji yang menyembunyikan kerinduan. Aku, seorang penulis skenario yang bersembunyi di balik kata-kata. Dia, seorang _influencer_ dengan senyum yang menaklukkan jutaan _followers_, namun menyimpan mata yang penuh luka. Kita bertemu dalam mimpi yang sama: melarikan diri dari hingar bingar dunia dan menemukan kedamaian dalam kebohongan yang kita ciptakan. Kita membangun kastil dari _chat_ yang tak terkirim, dari lagu-lagu yang saling kita bagi di tengah malam, dari janji-janji yang hanya berani kita bisikkan di balik *layar*. Setiap sentuhan jari di layar terasa seperti dekapannya yang hangat, setiap _like_ adalah ciuman yang dicuri di tengah keramaian. Dulu, aku percaya bahwa cinta bisa tumbuh di antara bit dan byte, bahwa kebenaran bisa disembunyikan di balik *filter* dan _caption_ yang sempurna. Namun, kebenaran itu seperti tetesan hujan yang tak bisa dihentikan. Ia menyusup masuk, merusak pondasi kastil kita. Aku mulai merasakan kehilangan yang samar, seperti aroma parfumnya yang tertinggal di bantal padahal ia sudah lama pergi. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang lebih besar dari sekadar ketidaksempurnaan. Aku mulai mencari. Di balik *feed* Instagram yang sempurna, aku menemukan jejak-jejak masa lalu yang ia coba kubur. Foto-foto yang dihapus, komentar-komentar yang disembunyikan, teman-teman yang tak pernah ia sebut namanya. Semua mengarah pada satu nama: **Isabella**. Isabella adalah masa lalunya. Isabella adalah alasannya. Isabella adalah kebohongan yang kita tinggali. Kebohongan itu akhirnya terungkap di malam gala. Lampu sorot menyilaukan, gaun-gaun mewah berputar, dan tawaran senyum palsu membanjiri ruangan. Di tengah keramaian, aku melihatnya. Dia berdiri di samping Isabella, senyumnya bersinar, matanya berbinar. Senyum dan binar yang tak pernah kulihat saat bersamaku. Saat itu, aku mengerti. Aku hanyalah *pelarian*. Aku hanyalah *fantasi*. Aku hanyalah *pengisi kekosongan* dalam hatinya yang selalu merindukan Isabella. *** Balas dendamku lembut, setenang hujan yang turun di tengah malam. Aku mengirimkan pesan terakhir: _"Kau tahu, kopi tanpa gula rasanya lebih jujur daripada senyummu."_ Aku memblokir nomornya, menghapus semua foto kita, dan mematikan notifikasi. Aku berdiri di balkon, merasakan dinginnya angin malam menerpa wajahku. Aku tersenyum. Senyum terakhir. Aku membiarkan dunia terus bersorak atas kebohongannya. Biarkan dia hidup dalam kepura-puraan. Aku, sementara itu, akan membangun duniaku sendiri, dunia yang dibangun atas dasar kejujuran, meskipun pahit. Dia akan tetap hidup dengan penyesalan, terkurung dalam bayang-bayang masa lalu, sementara aku... ...aku sudah melupakannya, hampir.
You Might Also Like: 197 Best Pictures
