Absurd tapi Seru: Pelukan Yang Menghangatkan Duka



Baiklah, ini dia kisah dracin fantasi berjudul 'Pelukan yang Menghangatkan Duka' dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Pelukan yang Menghangatkan Duka** Denting lonceng angin menggema di atas Danau Bulan Sabit. Di permukaan air yang tenang, *lentera-lentera* kertas beraneka warna mengapung, cahayanya memantulkan bintang-bintang di langit malam. Setiap lentera membawa harapan, setiap harapan membawa _duka_. Xiao Wei, seorang gadis yang *terlupakan*, berdiri di tepi danau. Ia tidak ingat bagaimana ia sampai di sana, hanya perasaan *kehilangan* yang begitu mendalam. Dunia ini, dengan pepohonan perak dan kabut ungu, terasa asing namun entah mengapa… familiar. "Xiao Wei..." Sebuah bisikan memanggil namanya. Ia menoleh, mencari sumber suara. Tidak ada siapa pun. Kecuali… *bayangan* yang memanjang dari pohon tua di belakangnya. Bayangan itu… berbicara. "Kau adalah _pintu_, Xiao Wei. Pintu antara dunia manusia dan dunia roh," bisik bayangan itu, suaranya serak seperti desiran angin di antara daun-daun. "Kematianmu di dunia manusia bukanlah akhir, melainkan… permulaan." Xiao Wei bingung. Kematian? Ia tidak ingat mati. Ia hanya ingat sakit… yang teramat sangat. Di dunia manusia, Kaisar muda Li Chen meratap di depan pusara Xiao Wei. Ia menggenggam erat liontin bulan sabit miliknya, satu-satunya peninggalan gadis yang dicintainya. Li Chen merasa *seperti jiwanya tercabik*. Ia bersumpah akan membalas dendam atas kematian Xiao Wei, yang menurutnya, adalah sebuah pengkhianatan. Tanpa ia ketahui, *bulan* di langit malam itu *mengingat* nama Xiao Wei. Bulan itu menyimpan rahasia. Di dunia roh, Xiao Wei bertemu dengan Bai Lian, seorang roh penjaga dengan mata seindah batu giok. Bai Lian menjelaskan bahwa Xiao Wei adalah keturunan terakhir dari garis keturunan penjaga keseimbangan antara dua dunia. Kematiannya diatur oleh *kekuatan gelap* yang ingin menguasai kedua alam. Bai Lian melatih Xiao Wei, mengajarinya seni pengendalian roh, seni bela diri, dan yang terpenting, seni *mencintai*. Mereka berbagi tawa, cerita, dan rahasia. Xiao Wei mulai merasakan *kehangatan* di hatinya, kehangatan yang *melampaui* rasa kehilangan. Namun, kebahagiaan itu *sementara*. Bayangan yang bicara itu ternyata adalah *penghianat*. Ia menggunakan Xiao Wei untuk membuka gerbang antara dunia manusia dan dunia roh, membangkitkan pasukan kegelapan yang telah lama tertidur. Li Chen, yang telah berhasil menembus gerbang dunia roh dengan bantuan seorang pendeta Tao, tiba tepat waktu untuk melihat Xiao Wei bertarung melawan kegelapan. Ia menyaksikan dengan ngeri saat Xiao Wei terluka parah. Saat itulah *kebenaran* terungkap. Bai Lian, yang selama ini tampak begitu tulus, ternyata adalah dalang dari semuanya. Ia mencintai Li Chen sejak lama, dan ia menggunakan Xiao Wei sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan akhirnya… cinta Kaisar muda. "Aku melakukan ini untukmu, Li Chen!" seru Bai Lian, air mata mengalir di pipinya. "Aku tahu kau akan mencintaiku jika aku memiliki kekuasaan!" Li Chen menatap Bai Lian dengan _tatapan kosong_. Ia _tidak pernah_ mencintai Bai Lian. Ia hanya mencintai… Xiao Wei. Xiao Wei, dengan sisa kekuatannya, menusuk jantung Bai Lian dengan pedang pusakanya. Kegelapan itu menghilang. Kedamaian kembali. Namun, Xiao Wei tahu, ini bukanlah akhir. Takdirnya belum selesai. Ia menatap Li Chen, air mata mengalir di pipinya. "Siapa yang mencintai, dan siapa yang memanipulasi takdir? Itulah pertanyaan abadi," bisik Xiao Wei, sebelum ia menghilang menjadi debu. Li Chen berlutut di tempat Xiao Wei menghilang. Ia menggenggam liontin bulan sabit miliknya dengan erat. *Maka, ingatlah bahwa cahaya bulan adalah air mata yang lupa bagaimana caranya jatuh.*
You Might Also Like: Agen Kosmetik Fleksibel Kerja Dari

Post a Comment

Previous Post Next Post