Baiklah, ini adalah kisah dengan sentuhan dracin intens, penuh dengan suasana berat dan ketegangan, serta menggunakan deskripsi puitis seperti yang Anda minta: **Aku Mencintaimu Bahkan Ketika Tak Ada Lagi yang Tersisa Untuk Kucintai** Malam di lereng Gunung Tai terasa *membekukan*, lebih dingin dari belati yang menusuk jantung. Salju turun tanpa henti, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang tak berdosa. Tapi di bawah lapisan itu, tersembunyi **DARAH**. Darah Jiang Mei, seorang wanita yang hidupnya diikat oleh benang merah takdir dan dendam kepada pria yang kini berdiri di hadapannya: Li Wei. Udara dipenuhi aroma dupa yang menyengat, dibakar sebagai persembahan di altar leluhur Li Wei. Namun, aroma itu tak mampu mengusir aroma kematian dan pengkhianatan yang lebih kuat. Di antara asap dan bayangan, Jiang Mei menatap Li Wei. Matanya, dulu dipenuhi cinta, kini hanya memancarkan bara kebencian yang membara. "Kau… Kau membunuh keluargaku," bisik Jiang Mei, suaranya serak dan nyaris tak terdengar di tengah deru angin. Air mata membeku di pipinya, mengalir di antara butiran salju yang menempel. Li Wei, dengan jubah kebesarannya yang berlumuran darah, hanya membalas tatapannya. Wajahnya, dulu tampan dan penuh senyum, kini keras dan dipahat oleh penyesalan. "Aku… Aku melakukan apa yang harus kulakukan." "Melakukan apa yang harus kau lakukan?! Membantai orang tak bersalah?! Menghancurkan segalanya?! Dulu, aku mencintaimu, Li Wei. Aku memberimu *segala-galanya*. Tapi kau… kau merenggutnya kembali dengan tanganmu sendiri." Flashback membanjiri pikiran Jiang Mei: tawa mereka di kebun bunga persik, janji-janji abadi di bawah rembulan purnama, dan *CINTA* yang dulu terasa begitu nyata. Kini, semua itu hanya abu, berserakan di antara puing-puing masa lalu. "Aku tahu," jawab Li Wei, suaranya berat. "Aku tahu apa yang kulakukan. Aku tahu luka yang kutorehkan di hatimu. Dan percayalah, Jiang Mei, aku *membayarnya* setiap hari." "Kau tak akan pernah bisa membayarnya! Kau tak akan pernah mengerti penderitaan yang kurasakan!" Jiang Mei meraih belati yang disembunyikannya di balik gaunnya. Kilatan perak memantulkan cahaya bulan yang samar. "Kau ingin membunuhku?" tanya Li Wei, tatapannya kosong. "Lakukanlah. Aku pantas mendapatkannya." Namun, Jiang Mei tidak menyerang. Ia terdiam, menatap Li Wei. Kebenciannya membara, tapi ada sesuatu yang menahannya. Ada *kenangan*, ada rasa sakit yang terlalu dalam untuk sekadar diakhiri dengan kematian. "Dulu, aku berjanji akan mencintaimu selamanya. Tapi kini, aku bersumpah akan membuatmu menderita lebih dari yang pernah kurasakan," ucap Jiang Mei, suaranya dingin dan menusuk. "Kematian terlalu mudah bagimu, Li Wei. Kau akan hidup. Kau akan hidup dengan rasa bersalah, dengan penyesalan, dengan *KESUNYIAN* yang abadi. Dan setiap kali kau melihat dirimu di cermin, kau akan mengingat wajahku, wajah wanita yang kau hancurkan." Jiang Mei berbalik, berjalan menjauh meninggalkan Li Wei yang terpaku di tempatnya. Di tangannya, ia menggenggam erat jimat giok yang dulu diberikan Li Wei sebagai tanda cinta. Kini, jimat itu adalah simbol *DENDAM* yang akan menemaninya. Bertahun-tahun kemudian, Li Wei ditemukan meninggal di kuil leluhurnya. Tak ada luka di tubuhnya, hanya wajah yang dipenuhi *KETAKUTAN* yang tak terlukiskan. Di sampingnya, tergeletak sebuah jimat giok yang patah menjadi dua. Jiang Mei, yang kini dikenal sebagai *Ratu Bayangan*, duduk di singgasananya yang terbuat dari tulang dan kegelapan. Ia tahu bahwa balas dendamnya telah sempurna. Li Wei tidak mati di tangannya, tapi mati karena hantu masa lalu yang diciptakannya sendiri. Ia menatap langit malam yang sunyi, dan tersenyum tipis. *Hantu yang paling menakutkan adalah hantu yang kau ciptakan sendiri.*
You Might Also Like: Casino Boss Was Landlord To Chinese
