SERU! Aku Mencintaimu Di Antara Batas, Dan Batas Itu Kian Menipis



Baik, ini kisah dracin intens berjudul 'Aku Mencintaimu di Antara Batas, dan Batas Itu Kian Menipis': **BABAK I: Malam di Puncak Terjal** Salju menari-nari di tengah malam yang menggigit. Di puncak gunung terjal yang membisu, berdiri Han Mei, bayangan kesepian di antara putihnya salju. Darah, bagai mawar merah yang mekar paksa, menodai kesucian salju di bawah kakinya. Ia menggenggam belati berukir naga, matanya membara, memendam lautan dendam yang membara. Di kejauhan, terdengar derap langkah kuda. Sosok Gao Wei muncul, bagai siluet kelam di tengah badai salju. Matanya, sedalam jurang tanpa dasar, menatap Han Mei dengan campuran cinta dan kebencian. "Mei… mengapa kau di sini?" Suaranya berat, bergetar menahan amarah dan kerinduan yang terpendam. Han Mei tertawa sinis, suara yang mengiris dinginnya malam. "Mengapa? Bukankah kau tahu, Gao Wei? AKU di sini untuk menuntut balas." Dulu, mereka adalah dua jiwa yang terikat oleh janji suci, janji di bawah rembulan purnama di tepi Danau Zamrud. Janji cinta abadi, yang kini tinggal abu. **BABAK II: Rahasia di Balik Dupa** Di dalam kuil tua yang remang-remang, aroma dupa menyelimuti ruangan. Air mata Han Mei jatuh, membasahi lantai batu yang dingin. Ia memandang altar, tempat di mana dulu ibunya bersujud, memohon keselamatan bagi dirinya. "Semua ini… semua ini karena KAU!" Han Mei berteriak, menunjuk Gao Wei yang berdiri kaku di ambang pintu. "Kau dan keluarga laknatmu!" RAHASIA itu terungkap. Rahasia yang selama ini terkubur dalam-dalam, disembunyikan di balik senyum palsu dan jabatan tangan bersahabat. Keluarga Gao Wei, dengan tangan besi dan ambisi tak terbatas, telah menghancurkan keluarga Han Mei. Menghancurkan segalanya. Gao Wei terdiam, wajahnya pucat pasi. Kebenaran itu menghantamnya seperti gelombang tsunami, menghancurkan semua ilusi yang selama ini ia pegang teguh. Ia mencintai Han Mei, sungguh mencintainya. Tetapi, cinta itu kini ternoda oleh darah dan pengkhianatan. "Aku… aku tidak tahu," bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar di antara gemuruh angin. "Kau tidak tahu? Lalu siapa yang memerintahkan pembantaian itu, Gao Wei? Siapa yang membunuh ibuku?!" Han Mei meraung, hatinya hancur berkeping-keping. **BABAK III: Janji di Atas Abu** Gao Wei berlutut di hadapan Han Mei, air matanya bercampur dengan salju yang meleleh di pipinya. Ia menggenggam tangan Han Mei yang memegang belati, darahnya menetes di atas abu bekas pembakaran dupa. "Bunuh aku, Mei. Jika itu bisa menebus dosa keluargaku… bunuh aku." Han Mei menatap Gao Wei dengan tatapan dingin yang menusuk. Ia melihat penyesalan di matanya, tetapi dendamnya terlalu membara untuk dipadamkan. "Tidak, Gao Wei. Kematianmu terlalu mudah. Aku ingin kau menderita, seperti aku menderita selama ini." Han Mei melepaskan tangannya dari belati dan berjalan pergi, meninggalkan Gao Wei yang tergeletak di salju. Ia berbalik, menatap Gao Wei sekali lagi. "Aku akan mengambil semua yang kau miliki, Gao Wei. Semuanya. Dan kemudian, baru aku akan membunuhmu. Perlahan… *sangat perlahan.*" **BABAK IV: Balas Dendam yang Tenang** Bertahun-tahun kemudian, Han Mei, dengan nama samaran yang baru, telah berhasil menguasai seluruh kekaisaran bisnis keluarga Gao Wei. Gao Wei, yang telah kehilangan segalanya, menjadi bayangan dirinya sendiri. Ia hidup dalam kemiskinan dan penyesalan, setiap hari dihantui oleh dosa masa lalu. Suatu malam yang dingin, Han Mei menemui Gao Wei di gubuk reyot tempat ia tinggal. Ia memberikan secangkir teh hangat kepada Gao Wei, senyumnya dingin dan mematikan. "Kau tahu, Gao Wei," bisiknya, "Balas dendam terbaik adalah dengan membiarkan musuhmu hidup… *dan menyaksikan mereka hancur perlahan.*" Gao Wei menatap Han Mei dengan tatapan kosong. Ia tahu, ini adalah akhir dari segalanya. Ia telah kehilangan segalanya, termasuk jiwanya. Han Mei meninggalkan gubuk itu, meninggalkan Gao Wei dalam kegelapan dan keputusasaan. Ia menoleh ke belakang, menatap gubuk itu sekali lagi. Dan kemudian, semua menjadi gelap. *Di suatu tempat, jauh di dalam kegelapan, suara bisikan itu masih terdengar: "Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari dirimu sendiri…"*
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Modal Kecil Untung

Post a Comment

Previous Post Next Post