## Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas dari Bayanganku Hujan kota membasahi jendela kafe, sama seperti air mata yang seringkali mengaburkan notifikasi di layar ponselku. Setiap *ding!* kecil harapan palsu. Mungkin dia. Mungkin bukan. Ia mengatakan aku masa lalunya. Sebuah bab yang sudah ditutup, dilupakan, dan ditinggalkan di rak-rak berdebu ingatannya. Tapi kenapa aromanya, aroma kopi yang sama seperti yang selalu dipesannya, masih menghantuiku di setiap sudut jalan? Namanya, Kai. Dulu, nama itu adalah *password* menuju kebahagiaanku. Sekarang, hanya serangkaian huruf yang mengirimkan sengatan listrik ke ulu hatiku. Kami bertemu di dunia maya, bertukar mimpi dan rahasia di balik layar ponsel. Cintaku padanya tumbuh secepat internet menyebar, tak terelakkan, tak terhentikan. Dulu, aku percaya setiap janjinya. Dulu, aku adalah dunianya. Tapi, “dulu” adalah kata yang kejam. Dulu, adalah kuburan bagi harapan. Aku menemukan *screenshot* percakapan kami yang lama di cloud, secara tak sengaja. Kalimat-kalimat manis itu terasa seperti pecahan kaca yang menusuk jantungku. Janji-janji yang dia ucapkan seolah-olah baru kemarin, padahal sudah berkarat oleh waktu dan kebohongan. Ada satu hal yang janggal. Sebuah *thread* percakapan yang terhapus. Jejak yang berusaha dihilangkan. **Misteri**. Itu adalah kata yang mendefinisikan hubunganku dengannya. Kenapa dia pergi? Kenapa dia menyangkal segalanya? Kenapa ia selalu ada di ambang pintuku, berdiri dalam bayang-bayang, tapi tak pernah berani masuk sepenuhnya? Ia mengirimiku pesan singkat tengah malam, "Aku merindukanmu." Klise. Hambar. Menggelikan. Aku ingin membalas, mencaci makinya, menuntut penjelasan. Tapi jemariku membeku di atas keyboard. Kata-kata itu, seperti pesan-pesan yang tak terkirim di masa lalu, tetap tersimpan. Kemudian, aku mengetahuinya. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Ada wanita lain. Bukan hanya satu. Tapi rentetan nama-nama yang pernah mendiami hatinya, sebelum aku, saat bersamaku, dan bahkan setelah aku. Aku bukanlah masa lalunya. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak *pilihan* dalam hidupnya. **KEBENARAN** itu menyakitkan, tapi juga membebaskan. Saatnya balas dendam. Balas dendam yang lembut, elegan, dan mematikan. Aku menemuinya di kafe itu, di bawah payung hujan kota yang sama. Dia menatapku dengan tatapan penuh harap, tatapan seorang pecandu yang menginginkan dosis terakhirnya. Aku tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa kepalsuan, tanpa kebencian. Senyum seorang wanita yang telah menemukan kekuatannya kembali. "Kai," kataku dengan suara tenang, "Aku ingin kau tahu, aku sudah memaafkanmu." Dia tampak lega. "Memaafkanmu," lanjutku, "karena telah membuang-buang waktuku." Aku bangkit, meninggalkan uang di meja, dan berbalik. Aku tidak menoleh ke belakang. Tidak ada kata-kata perpisahan, tidak ada air mata. Hanya keheningan. Ponselku berdering. Pesan darinya: "Tunggu! Biarkan aku menjelaskan!" Aku menarik napas dalam-dalam dan memblokir nomornya. ***SELESAI***. Aku melangkah keluar dari kafe, menuju masa depan yang baru. Masa depan yang tidak lagi dibayangi oleh *masa lalunya*. Aku hanya meninggalkan sisa aroma parfumku di udara, jejak samar yang akan menghantuinya, selamanya. ...dan mungkin, itu saja sudah cukup.
You Might Also Like: Mimpi Dikejar Laba Laba Rumah
