Cerpen Terbaru: Janji Yang Kulepaskan Dalam Hujan



Janji yang Kulepaskan Dalam Hujan

Gerimis menyentuh pipiku. Dinginnya menyengat, mengingatkanku pada malam itu. Malam ketika aku terjatuh… atau didorong? Entahlah. Yang kuingat hanyalah kegelapan, dan kemudian, aku terbangun di dunia yang asing.

Dunia Yumei.

Di sini, langit berwarna lavender dan pepohonan berbisik rahasia pada angin. Lentera-lentera terapung di permukaan danau, cahayanya menari-nari seperti kunang-kunang yang abadi. Bayangan, ah, bayangan di Yumei bukanlah sekadar pantulan. Mereka berbicara. Mereka mengingat. Mereka mengetahui.

Namaku di dunia manusia adalah Lin Mei. Di sini, aku dipanggil Yue'er, 'Bulan Kecil'. Bulan, sang pengingat. Bulan yang selalu mengintip dari balik awan, menyaksikan setiap janji yang terucap, setiap air mata yang jatuh.

Yumei dipimpin oleh Kaisar Bayangan, seorang pria berwajah teduh, bermata tajam bagai elang. Dia menemukanku di tepi danau, tubuhku hampir lenyap ditelan kabut. Dia membawaku ke istananya, mengklaimku sebagai pilihan takdir.

"Kematianmu di dunia lama," bisik Kaisar Bayangan suatu malam, saat kami berdiri di balkon istana, menyaksikan lentera-lentera menari di bawah sana, "adalah permulaan. Permulaan dari takdir barumu, Yue'er."

Takdir?

Aku, Lin Mei, seorang gadis biasa yang terbunuh dalam kecelakaan misterius, kini menjadi bagian dari takdir dunia roh? Aku tidak mengerti. Tapi aku merasakan tarikan yang kuat, magis, yang mengikatku pada Yumei.

Aku belajar menggunakan kekuatan roh, kekuatan yang bersemayam di dalam diriku. Aku belajar membaca bayangan, mendengarkan bisikan pepohonan. Aku belajar tentang Perjanjian Kuno, perjanjian antara dunia manusia dan Yumei, yang terancam dilanggar oleh kekuatan gelap yang mengintai di perbatasan.

Dan aku, Yue'er, harus menghentikannya.

Kaisar Bayangan melatihku. Dia adalah guru yang sabar namun misterius. Matanya selalu mengawasiku, seolah dia melihat sesuatu yang tidak kulihat. Apakah dia mencintaiku? Atau dia hanya memanfaatkan takdirku? Aku tidak tahu.

Lalu, ada Lei, seorang prajurit roh yang gagah berani. Dia selalu melindungiku, mempertaruhkan nyawanya untukku. Tatapannya tulus, penuh kekhawatiran. Aku merasa aman bersamanya, meski bahaya mengintai di setiap sudut Yumei.

Malam itu, hujan turun dengan deras. Hujan di Yumei berbeda. Airnya terasa seperti air mata dewa, menghapus jejak masa lalu, membasuh dosa-dosa. Di bawah hujan, aku melihat bayangan Kaisar Bayangan berbisik pada kegelapan. Bayangan itu mengaku.

"Aku yang mengatur kematianmu, Lin Mei," bisik bayangan itu. "Karena hanya kematianmu yang bisa membuka jalan bagimu menuju Yumei. Kau adalah kunci untuk mengaktifkan Perjanjian Kuno. Kau adalah pion dalam permainanku."

Hatiku hancur. Semua kebaikannya, semua bimbingannya, hanyalah sandiwara?

Lei datang, pedangnya terhunus. Dia telah mendengar semuanya. Pertempuran sengit terjadi. Kaisar Bayangan menggunakan kekuatan gelap, kekuatannya begitu gelap dan kuat sehingga bahkan langit Yumei pun bergetar.

Aku menyadari sebuah kebenaran yang menyakitkan. Kaisar Bayangan tidak mencintaiku. Dia mencintai kekuatan yang kumiliki. Dia memanipulasi takdirku, membawaku ke sini hanya untuk mencapai tujuannya sendiri.

Lei, bagaimanapun, mempertaruhkan segalanya untukku. Dia mencintai Lin Mei, gadis biasa yang terbunuh di dunia manusia. Dia mencintai Yue'er, Bulan Kecil yang berjuang untuk menyelamatkan Yumei.

Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku memecahkan Perjanjian Kuno. Kekuatan gelap yang mengancam Yumei hancur. Kaisar Bayangan lenyap, ditelan oleh kegelapannya sendiri.

Lei terluka parah. Di pangkuanku, dia tersenyum tipis. "Aku akan selalu menjagamu, Yue'er," bisiknya, sebelum matanya tertutup selamanya.

Hujan terus turun. Air mata dewa membasuh Yumei. Aku berdiri di sana, sendirian, mengenang semua yang telah terjadi. Aku adalah Lin Mei, aku adalah Yue'er. Aku adalah korban, dan aku adalah penyelamat.

Misteri terpecahkan. Cinta sejati ditemukan. Pengkhianatan terungkap.

Aku mengangkat wajahku ke langit, membiarkan hujan membasahi wajahku. Aku mengucapkan mantra, mantra perpisahan, mantra harapan, mantra...

...semoga kenanganmu menjadi bintang penuntun di kegelapan abadi.

You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Menangkap Ikan Guppy

Post a Comment

Previous Post Next Post